RBN || Jakarta
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pemerintah Amerika Serikat memerintahkan sejumlah staf kedutaannya untuk meninggalkan Arab Saudi setelah meningkatnya risiko keamanan akibat serangan balasan Iran.
Dilansir dari kantor berita AFP pada Senin (9/3/2026), Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bahwa pegawai pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga mereka diminta segera meninggalkan wilayah Arab Saudi. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan menyusul potensi ancaman terhadap keselamatan warga Amerika di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah AS juga kembali mengingatkan warganya agar mempertimbangkan ulang rencana perjalanan ke Arab Saudi. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada larangan penuh bagi warga Amerika untuk berkunjung ke negara kerajaan tersebut.
Keputusan evakuasi ini muncul setelah serangkaian serangan drone yang diduga diluncurkan oleh Iran menghantam sejumlah fasilitas diplomatik Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pekan lalu, serangan drone dilaporkan merusak area Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Kedutaan AS di Kuwait serta Uni Emirat Arab.
Ketegangan semakin meningkat ketika otoritas Arab Saudi melaporkan sebuah proyektil jatuh di Provinsi Al Kharj pada Minggu (8/3). Insiden tersebut menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya 12 lainnya.
Serangan-serangan ini terjadi setelah Iran menyatakan akan melakukan pembalasan terhadap serangan militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu kemarahan pemerintah di Teheran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas dampak konflik tersebut. Namun ia menegaskan bahwa Iran akan terpaksa mengambil tindakan balasan jika wilayah negara-negara Teluk digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang Iran.
Sejumlah negara Teluk diketahui memiliki hubungan militer yang erat dengan Amerika Serikat. Bahrain dan Qatar, misalnya, menjadi lokasi pangkalan militer penting bagi pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan situasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional, mengingat eskalasi konflik berpotensi memperluas ketegangan dan mempengaruhi stabilitas kawasan.
Sumber: detiknews











