RBN || Tiongkok
Tingkat kelahiran di Tiongkok kembali merosot tajam dan kini mencapai level terendah sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Data resmi terbaru menunjukkan penurunan ini memperdalam tekanan demografis di tengah upaya pemerintah membangun masyarakat yang lebih ramah keluarga dan mendorong warga memiliki anak.
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional Tiongkok, angka kelahiran pada 2025 turun menjadi 5,6 kelahiran per 1.000 penduduk. Jumlah bayi yang lahir tercatat hanya 7,9 juta, turun sekitar 1,6 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut disebut sebagai yang paling tajam sejak 2020.
Tren ini turut berdampak pada penyusutan jumlah penduduk Tiongkok. Pada 2025, populasi negara tersebut berkurang sekitar 3,4 juta jiwa, menandai tahun keempat berturut-turut jumlah penduduk terus menyusut. Total populasi Tiongkok diperkirakan masih berada di kisaran 1,4 miliar jiwa, melanjutkan tren penurunan sejak 2021.
Penurunan kelahiran ini menjadi tantangan besar bagi kebijakan Presiden Xi Jinping yang gencar mendorong terbentuknya masyarakat “ramah fertilitas”. Pemerintah pusat maupun daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan insentif, mulai dari subsidi tunai, perpanjangan cuti melahirkan, hingga program dukungan pengasuhan anak. Namun, dampaknya dinilai masih terbatas dalam membalikkan tren menurunnya angka kelahiran.
Tak hanya kelahiran, angka pernikahan di Tiongkok juga mencatat rekor terendah sejak 1980. Sepanjang 2024, hanya 6,1 juta pasangan yang menikah, turun 20,5 persen dibandingkan 2023. Sementara itu, angka perceraian justru naik sekitar 1,1 persen.
Otoritas menilai tren ini dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah perempuan usia subur, serta kecenderungan generasi muda menunda pernikahan dan memiliki anak akibat tekanan ekonomi dan sosial, mulai dari biaya hidup tinggi hingga beban pengasuhan anak yang semakin berat.
Meski menghadapi tekanan demografis, perekonomian Tiongkok masih mencatat pertumbuhan stabil. Data resmi menunjukkan ekonomi negara tersebut tumbuh 5 persen pada 2025, sesuai target pemerintah.
Biro Statistik Nasional juga melaporkan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok melampaui 140 triliun yuan atau sekitar 20 triliun dolar AS, mempertahankan posisi sebagai ekonomi terbesar kedua dunia. Namun, capaian itu terjadi di tengah tantangan seperti lemahnya permintaan domestik, tekanan deflasi, perlambatan sektor properti, dan ketidakpastian eksternal terkait kebijakan tarif Amerika Serikat.
Penurunan kelahiran yang semakin dalam kini menjadi salah satu persoalan utama yang diprediksi akan memengaruhi masa depan Tiongkok, terutama dalam hal ketersediaan tenaga kerja, beban populasi lansia, serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Sumber: Metro Tv











