RBN || Jakarta
Ancaman serangan siber di Indonesia diprediksi akan meningkat tajam pada 2026 seiring meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru Fortinet memperingatkan bahwa kejahatan siber berbasis AI akan menjadi lebih cepat, lebih masif, dan jauh lebih sulit ditangkal jika perusahaan masih mengandalkan pendekatan keamanan tradisional.
Vice President of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menyebut AI kini menjadi “mesin percepatan” bagi para penjahat siber.
“Jika dulu perencanaan serangan membutuhkan waktu dan tenaga manusia, kini AI dapat melakukannya secara otomatis, adaptif, dan berkelanjutan tanpa henti,” ujar Pandey dalam keterangan resmi, Selasa (9/12).
Menurutnya, kemampuan AI untuk bekerja 24 jam nonstop memungkinkan pelaku siber terus mencari celah keamanan dan melancarkan serangan dalam hitungan detik. Akses mudah terhadap teknologi cybercrime-as-a-service juga membuat siapa pun dapat melakukan serangan siber.
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menegaskan kesiapan dunia usaha nasional masih harus ditingkatkan.
“Tahun 2026 bukan hanya soal memperkuat infrastruktur, tetapi memikirkan ulang seluruh pendekatan keamanan. Ancaman harus dilihat sebagai risiko bisnis,” tegasnya.
Edwin menjelaskan masih banyak perusahaan yang salah menetapkan prioritas perlindungan sistem. Aplikasi yang selama ini dianggap vital seperti sistem akuntansi atau ERP ternyata bukan satu-satunya pilar operasional.
“Dalam bisnis modern, downtime API pembayaran, platform chat internal, hingga server cloud layanan pelanggan bisa menyebabkan kerugian finansial signifikan,” ujarnya.
Sebagai respon, Fortinet memperkenalkan kerangka kerja baru bernama Cyber Threat Neutralization (CTN). Pendekatan ini membantu perusahaan memetakan ancaman siber berdasarkan dampaknya terhadap bisnis, sebelum menentukan area pengamanan yang harus diprioritaskan.
Dengan CTN, anggaran keamanan dapat difokuskan pada area dengan potensi kerugian terbesar, sehingga investasi lebih efektif.
Ancaman yang semakin kompleks ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus diiringi transformasi keamanan. Tanpa kesiapsiagaan, pelaku usaha berisiko menghadapi kerugian yang tidak hanya besar secara ekonomi, tetapi juga dapat merusak kepercayaan dan reputasi perusahaan.
Sumber: Bisnis.com











