RBN || Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada awal perdagangan Senin (9/3). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.009 per dolar AS atau melemah 84 poin setara 0,50 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dipengaruhi berbagai sentimen eksternal. Di kawasan Asia, sebagian besar mata uang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,56 persen, baht Thailand turun 0,86 persen, yuan Tiongkok melemah 0,25 persen, peso Filipina terkoreksi 1,09 persen, serta won Korea Selatan melemah 0,75 persen.
Sementara itu, dolar Singapura turut melemah 0,45 persen. Berbeda dengan mata uang lainnya, dolar Hong Kong justru mencatat penguatan tipis sebesar 0,08 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini.
Tekanan juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro tercatat melemah 0,93 persen, poundsterling Inggris turun 0,94 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,79 persen. Di sisi lain, dolar Australia melemah 0,85 persen dan dolar Kanada turun 0,10 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari sentimen global yang mendorong investor cenderung menghindari risiko. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus level US$100 per barel.
Menurut Lukman, kenaikan harga minyak tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, termasuk meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.000 belum dapat dikategorikan sebagai krisis ekonomi. Meski demikian, kondisi ini tetap membawa konsekuensi yang perlu diwaspadai jika berlangsung dalam jangka waktu lama.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menyebut dampak pelemahan rupiah mulai terasa terutama pada sektor yang bergantung pada impor serta pembiayaan berbasis valuta asing.
Ia menambahkan, tekanan nilai tukar juga berpotensi memicu kenaikan harga barang impor serta menambah beban utang bagi dunia usaha dan anggaran negara. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang tepat dinilai penting untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Sumber: CNN Indonesia











