Angin Kencang, Akar Rapuh, dan Kota yang Berlari: Mengapa Pohon Mudah Tumbang di Jakarta Utara?

  • Share
Mengapa Pohon Mudah Tumbang di Jakarta Utara
Mengapa Pohon Mudah Tumbang di Jakarta Utara

RBN || Jakarta

Jakarta Utara kembali berhadapan dengan realitas alam yang tak terhindarkan ketika sebuah pohon besar tumbang pada 20 November 2025. Peristiwa itu bukan sekadar insiden musiman, tetapi cermin dari hubungan rapuh antara kota padat penduduk dengan bentang hijau yang tersisa. Di Sunter Jaya, sebuah pohon asam setinggi sekitar sepuluh meter roboh dan menutup badan jalan. Batangnya menimpa gerobak pedagang dan menjuntai di antara kabel listrik, memaksa lalu lintas tersendat hingga petugas menyelesaikan evakuasi menjelang malam.

Fenomena ini terjadi di tengah rangkaian cuaca ekstrem yang sudah diprediksi BMKG sejak awal pekan. Dalam peringatan dini 18–20 November, Jakarta ditempatkan dalam status waspada karena berpotensi diguyur hujan lebat yang disertai angin kencang. Kondisi atmosfer pada November memang dikenal labil, ditandai awan konvektif yang mudah berkembang dan memicu hujan deras dalam waktu singkat. Kombinasi cuaca semacam ini sangat berisiko bagi pohon-pohon tua di kawasan urban yang padat aktivitas manusia.

Dari pengamatan warga dan pengurus lingkungan, pohon yang roboh di Sunter telah berusia lebih dari 15 tahun. Akar pohon itu diyakini mulai melemah karena usia dan kondisi tanah yang kian padat. Tak jauh dari lokasi, beberapa pekan sebelumnya dilakukan penggalian kabel Listrik, aktivitas yang tampaknya ikut mengganggu kekokohan perakaran. Ketika hujan deras membasahi tanah dan angin menekan tajuk pohon dari samping, daya cengkeram akar yang sudah rapuh tak lagi mampu melawan beban tersebut.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah mengantisipasi risiko ini. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota melaporkan pemangkasan lebih dari 62.000 pohon sepanjang tahun sebagai upaya meminimalkan ancaman pohon tumbang. Posko kesiapsiagaan pun dibuka selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat dari seluruh wilayah kota. Namun, upaya tersebut tampaknya baru menyentuh permukaan dari masalah yang lebih kompleks.

Tumbangnya pohon di Jakarta Utara menunjukkan bahwa kerentanan pohon kota bukan hanya soal angin dan hujan. Ada faktor biologis, aktivitas pembangunan, hingga tata ruang yang tidak memberi ruang tumbuh ideal. Akar yang semestinya menyebar luas sering kali terhimpit beton, terpotong saat penggalian, atau tumbuh di tanah yang terlalu padat karena lalu lalang kendaraan berat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ruang hijau di kota megapolitan tidak bisa diperlakukan sebagai ornamen semata. Pemeriksaan kesehatan akar secara berkala, penataan ulang utilitas bawah tanah, serta edukasi kepada publik tentang bahaya cuaca ekstrem harus bergerak bersama. Jakarta terus bertumbuh, dan pohon-pohon yang menopang kualitas hidup warganya juga perlu diberi kesempatan untuk kuat berdiri. Tanpa itu, tiap musim hujan akan selalu membawa cerita serupa dan kota ini akan terus belajar dengan cara yang tidak harusnya terjadi.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *