RBN || Beijing
Persaingan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan China kini tidak hanya terjadi di bidang semikonduktor, perdagangan, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi 5G, tetapi juga meluas ke infrastruktur kabel internet bawah laut yang menjadi tulang punggung konektivitas digital dunia.
Sekitar 99 persen lalu lintas data global mengalir melalui kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan berbagai benua. Infrastruktur ini menjadi penopang berbagai layanan digital, mulai dari email, panggilan video, komputasi awan, transaksi keuangan, hingga pengembangan AI. Karena perannya yang sangat vital, kabel bawah laut kini dipandang sebagai aset strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional, ekonomi digital, dan kepentingan geopolitik.
Peneliti Senior sekaligus Direktur Eropa di Australian Strategic Policy Institute (ASPI), Bart Hogeveen, mengatakan bahwa pihak yang menguasai infrastruktur penting tersebut akan memiliki pengaruh besar terhadap konektivitas global, termasuk dalam menentukan akses, penggunaan, standar, hingga biaya layanan digital.
Persaingan kedua negara semakin terlihat setelah Amerika Serikat memperketat pengawasan terhadap infrastruktur kabel bawah laut melalui persyaratan perizinan yang lebih ketat sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan nasional. Kebijakan tersebut melanjutkan program Clean Cable yang bertujuan membatasi keterlibatan perusahaan China dalam proyek-proyek kabel yang dinilai sensitif.
Sementara itu, China terus memperluas jaringan kabel bawah laut melalui HMN Tech dan proyek Digital Silk Road. Perusahaan tersebut telah membangun lebih dari 100.000 kilometer sistem kabel bawah laut yang menjangkau lebih dari 70 negara dan kawasan sebagai bagian dari penguatan konektivitas digital global.
Persaingan geopolitik juga tercermin dalam proyek SeaMeWe-6 yang menghubungkan Singapura hingga Prancis. Proyek yang semula diperkirakan akan dikerjakan perusahaan asal China akhirnya dialihkan kepada perusahaan asal Amerika Serikat setelah adanya pertimbangan geopolitik dan keamanan.
Selain pembangunan jaringan, keamanan kabel bawah laut kini menjadi perhatian dunia. Sejumlah insiden kerusakan kabel di sekitar Taiwan dan Laut Baltik meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi sabotase yang dapat mengganggu komunikasi, aktivitas ekonomi, hingga sistem pertahanan suatu negara.
Di kawasan Asia Tenggara, kebutuhan terhadap kabel internet bawah laut terus meningkat seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital. Namun, sejumlah negara di kawasan masih bergantung pada pihak luar untuk proses pemeliharaan dan perbaikan kabel, sehingga kerja sama regional dinilai perlu diperkuat guna meningkatkan ketahanan infrastruktur digital.
Para analis memperkirakan persaingan antara Amerika Serikat dan China akan semakin intensif seiring berkembangnya teknologi AI yang membutuhkan kapasitas transfer data, pusat data, komputasi, dan pasokan energi yang semakin besar. Persaingan tersebut diperkirakan tidak hanya berfokus pada pembangunan jaringan baru, tetapi juga pada kemampuan menjaga keamanan, ketahanan, dan keberlangsungan operasional infrastruktur digital global.
Sumber: CNA











