CEO Chevron Peringatkan Dunia Terancam Krisis Minyak, Pasokan Disebut Mulai Langka

  • Share
Ilustrasi. (Foto: SindoNews)

RBN || Jakarta

Kekhawatiran dunia terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kini berkembang menjadi ancaman yang lebih serius. CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan bahwa dunia tidak lagi hanya menghadapi lonjakan harga minyak, tetapi juga potensi kelangkaan pasokan secara fisik.

Dalam diskusi di Milken Institute, Wirth mengatakan gangguan distribusi minyak global telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

“Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik,” ujar Wirth.

Menurutnya, kondisi saat ini mengingatkan pada krisis energi global era 1970-an ketika sejumlah negara Barat mengalami penjatahan bahan bakar dan antrean panjang di stasiun pengisian BBM.

Wirth menjelaskan berbagai cadangan minyak yang selama ini menjadi penyangga pasar mulai terkuras, mulai dari stok komersial, kapal tanker cadangan, hingga Strategic Petroleum Reserve (SPR) milik sejumlah negara.

“Permintaan harus turun untuk menyesuaikan dengan pasokan. Ekonomi harus melambat,” katanya.

Sebagai pimpinan perusahaan energi yang memproduksi sekitar 3,1 juta barel minyak per hari, Wirth mengaku melihat langsung tekanan besar yang terjadi di pasar energi global.

Dampak krisis tersebut bahkan disebut sudah mulai terasa di berbagai sektor. Salah satunya terjadi pada maskapai Spirit Airlines yang dilaporkan bangkrut pada 3 Mei 2026 akibat tingginya biaya bahan bakar pesawat.

Krisis pasokan minyak diperkirakan paling berdampak bagi kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Jepang, misalnya, disebut memperoleh sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan tersebut.

Persaingan mendapatkan sumber energi alternatif pun mulai terjadi. Jepang dilaporkan baru menerima pengiriman minyak mentah dari Pulau Sakhalin, Rusia, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Setelah Asia, Eropa diperkirakan akan menghadapi tekanan serupa akibat meningkatnya perebutan pasokan energi global.

Sementara itu, Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia juga dinilai tidak sepenuhnya aman dari dampak krisis. Pengiriman minyak terakhir dari wilayah Teluk disebut baru saja dibongkar di Pelabuhan Long Beach, California Selatan.

Krisis energi global ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent tercatat mencapai 113,76 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level 104,83 dolar AS per barel.

Selain lonjakan harga, kekhawatiran utama kini bergeser pada potensi kelangkaan BBM di pasar global.

Situasi tersebut dikhawatirkan memukul berbagai sektor penting seperti transportasi, pertanian, hingga industri manufaktur. Jika pasokan energi terus menurun, laju ekonomi dunia diperkirakan akan melambat dan inflasi kembali meningkat.

Dalam kondisi itu, bank sentral di berbagai negara diperkirakan menghadapi dilema besar antara menjaga stabilitas harga atau mencegah resesi ekonomi.

Saat ini perhatian dunia tertuju pada operasi militer Angkatan Laut Amerika Serikat yang diluncurkan pada 4 Mei lalu untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz.

Namun Wirth menilai pemulihan pasokan energi global tidak akan berlangsung cepat karena hampir seluruh cadangan penyangga pasar sudah terpakai.

Ia menegaskan, ancaman utama bukan hanya soal penutupan Selat Hormuz, tetapi dampak berantai terhadap sistem rantai pasok global yang sangat bergantung pada distribusi energi. Menurutnya, proses gangguan besar terhadap pasar energi dunia kini sudah mulai terjadi.

Sumber: SindoNews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *