RBN || Semarang
Pemerintah Kota Semarang meningkatkan perhatian terhadap keselamatan lalu lintas di Jalur Silayur, Kecamatan Ngaliyan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di Kota Semarang.
Jalur yang memiliki kontur tanjakan dan turunan curam itu kerap menjadi lokasi kecelakaan kendaraan berat, terutama akibat rem blong. Berdasarkan data kepolisian dalam enam tahun terakhir, sejumlah insiden di kawasan tersebut bahkan menelan korban jiwa.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengatakan kondisi geografis Jalur Silayur menjadi tantangan utama dalam pengaturan lalu lintas.
Menurutnya, tingkat kemiringan jalan yang mencapai 13,2 persen membuat kendaraan bertonase besar sangat rentan mengalami gangguan pengereman saat melintas.
“Kawasan Silayur memang memiliki karakteristik tanjakan dan turunan ekstrem yang sangat panjang. Data menunjukkan rata-rata belasan hingga puluhan korban selalu ada setiap tahunnya. Karena itu, kami terus melakukan upaya rekayasa teknis agar angka ini bisa ditekan secara signifikan,” ujar Danang, Jumat (8/5/2026).
Untuk mengurangi risiko kecelakaan, Dishub Kota Semarang telah melakukan sejumlah langkah teknis di kawasan tersebut. Mulai dari penebalan marka jalan, pemasangan pita kejut, hingga penambahan Rambu Pendahulu Petunjuk Jurusan (RPPJ).
Selain itu, pemerintah juga memasang portal pembatas kendaraan berat dan menutup beberapa titik putar balik atau u-turn yang dinilai berpotensi memicu kecelakaan akibat hambatan samping.
Pengawasan terhadap kendaraan berat juga diperketat, terutama terkait jam operasional truk yang melintas di Jalur Silayur.
Danang menyebut petugas kini ditempatkan di sejumlah titik penting untuk memantau arus lalu lintas sekaligus memastikan aturan dipatuhi para pengemudi.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, agar mulai memanfaatkan transportasi umum seperti layanan BRT Trans Semarang Koridor IV yang melintasi kawasan tersebut.
“Penggunaan transportasi publik seperti BRT jauh lebih aman dibandingkan mengendarai sepeda motor di jalur curam ini. Armada kami rutin menjalani pengecekan kelaikan kendaraan secara ketat sehingga risiko kegagalan teknis saat menanjak maupun menurun dapat diminimalisasi demi keselamatan penumpang,” tuturnya.
Menurut Danang, meningkatnya aktivitas industri di wilayah Semarang Barat turut memengaruhi tingginya volume kendaraan di Jalur Silayur. Kondisi itu membuat beban lalu lintas di kawasan tersebut semakin padat.
Karena itu, Pemkot Semarang terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memperkuat sistem pengawasan dan evaluasi keselamatan di Jalan Prof Hamka.
Pemerintah juga menegaskan akan menindak kendaraan yang melanggar aturan tonase maupun jam operasional. Para pengusaha logistik diminta memastikan armada yang digunakan dalam kondisi layak jalan sebelum beroperasi.
“Kami tidak akan lelah melakukan pembenahan meskipun tantangan topografinya sangat sulit. Kesadaran pengemudi truk untuk mematuhi aturan muatan adalah kunci utama agar peristiwa memilukan di Silayur tidak terus berulang setiap tahunnya. Keselamatan harus menjadi prioritas di atas segalanya,” kata Danang.
Sumber: JPNN











