RBN || Boven Digoel
Aparat gabungan dalam Operasi Damai Cartenz 2026 menegaskan perlindungan masyarakat sipil menjadi prioritas utama setelah insiden penembakan terhadap dua pilot pesawat perintis di wilayah Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Faizal Ramadhani, mengatakan negara tidak akan tinggal diam menghadapi aksi kekerasan yang menyasar warga sipil. Ia menegaskan penegakan hukum akan dilakukan secara profesional dan berdasarkan bukti yang kuat.
“Korban dalam rangkaian kekerasan ini adalah warga sipil, mulai dari pilot, sopir, hingga pekerja pembangunan sekolah. Negara tidak boleh kalah oleh teror,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026).
Dalam dua hari terakhir, aparat telah mengamankan empat orang terkait insiden tersebut. Dua di antaranya, berinisial GW dan EH, diduga terlibat langsung dalam sejumlah aksi kekerasan. Sementara dua lainnya masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh penyidik.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Adarma Sinaga, menjelaskan aparat tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga memastikan keamanan masyarakat dan kelancaran aktivitas penerbangan di wilayah terpencil.
“Kami meningkatkan pengamanan bandara, patroli, dan koordinasi lintas satuan agar ruang gerak kelompok bersenjata semakin terbatas,” katanya.
Selain penembakan, aparat juga menemukan indikasi perusakan fasilitas publik, termasuk dugaan pembakaran ruang kelas. Di lokasi kejadian, petugas menemukan botol berisi sisa bahan bakar dan potongan kayu yang terbakar. Instalasi listrik di area tersebut juga ditemukan dalam kondisi tidak aktif.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Yusuf Sutejo, menegaskan seluruh tindakan aparat dilakukan berdasarkan bukti dan hasil penyelidikan. Ia juga membantah narasi yang menyebut pelaku sebagai warga sipil biasa.
“Yang diamankan adalah pihak-pihak yang teridentifikasi berdasarkan alat bukti dan keterangan saksi. Korban dari aksi kekerasan ini justru masyarakat sipil,” ujarnya.
Upaya perusakan juga sempat menyasar dua unit ambulans yang menjadi satu-satunya sarana transportasi medis warga setempat. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan setelah warga melakukan negosiasi dengan pelaku.
Menurut Yusuf, perlindungan terhadap fasilitas publik menjadi fokus utama karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat. “Jika sekolah dibakar dan ambulans dirusak, anak-anak kehilangan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan bisa terganggu,” katanya.
Aparat juga terus memperkuat koordinasi dengan unsur TNI di wilayah Tanah Merah, termasuk pengamanan bandara-bandara terpencil yang memiliki fasilitas terbatas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan wilayah tetap terjaga dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.
Sumber: Metro Tv











