Ngopi Bernuansa Budaya di Sasana Bhagavadgita, Harmoni Gamelan di Tengah Kota Surabaya

  • Share
Sasana Bhagavadgita, Cafe Nyentrik di Surabaya yang Sajikan Gamelan dan Suasana "Rumah Kakek". (Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim)

RBN || Surabaya

Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, sebuah ruang sederhana menawarkan pengalaman berbeda bagi para penikmat kopi dan budaya. Berlokasi di kawasan Jalan Dukuh Kupang, Sasana Bhagavadgita hadir sebagai oase ketenangan dengan sentuhan tradisi Jawa yang kental.

Sejak langkah pertama mendekati lokasi, pengunjung sudah disambut alunan lembut gamelan yang mengalir dari dalam bangunan. Tidak seperti kedai kopi modern pada umumnya, tempat ini tampil sederhana tanpa papan nama mencolok. Bangunannya justru menyerupai rumah tua dengan nuansa hangat dan dikelilingi pepohonan rindang.

Memasuki area dalam, suasana khas Jawa semakin terasa melalui konsep joglo dan area lesehan yang nyaman. Meja dan kursi ditata sederhana, berpadu dengan area barista yang tetap fungsional. Namun, daya tarik utama tempat ini bukan hanya kopi atau kudapan yang disajikan, melainkan pengalaman budaya yang ditawarkan.

Manajer kedai, M. Mursyid Tamam, menjelaskan bahwa nama “Sasana Bhagavadgita” memiliki makna filosofis yang mendalam. “Sasana berarti tempat berkumpul, sementara Bhagavadgita diambil dari kisah dalam kitab suci Hindu tentang dialog antara Krishna dan Arjuna di medan perang,” ujarnya.

Filosofi tersebut menjadi ruh dari kedai ini, yakni sebagai tempat bagi mereka yang tengah diliputi kegelisahan atau kebimbangan untuk menemukan ketenangan. Dalam suasana yang jauh dari kebisingan kota, pengunjung diajak untuk sejenak berhenti, merenung, dan menikmati momen.

Salah satu elemen paling mencolok adalah keberadaan seperangkat gamelan kuningan asli yang telah berusia puluhan tahun. Instrumen seperti gong, kendang, kenong, hingga suling ditempatkan langsung di ruang utama, berdampingan dengan pengunjung.

Menariknya, gamelan di sini tidak sekadar pajangan. Pengunjung diperbolehkan menyentuh, mencoba, bahkan belajar memainkannya. Pendekatan ini bertujuan menghapus stigma bahwa gamelan bersifat mistis dan menjadikannya lebih dekat dengan generasi muda.

Selain itu, interior kedai juga dipenuhi berbagai barang antik, mulai dari mesin tik, telepon jadul, kaset lawas, hingga vespa tua. Seluruh koleksi tersebut merupakan peninggalan keluarga pemilik yang memang memiliki kedekatan dengan dunia seni.

Kehadiran Sasana Bhagavadgita pun mendapat respons positif dari pengunjung. Salah satunya Hera Marthaningdyah, yang menilai tempat ini mampu menjadi jembatan antara budaya tradisional dan generasi modern.

Dengan konsep unik yang memadukan kopi, seni, dan refleksi diri, Sasana Bhagavadgita bukan sekadar kedai, melainkan ruang hidup yang menghadirkan harmoni budaya di tengah dinamika kota Surabaya.

Sumber: detiktravel

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *