RBN || Tana Toraja
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep menghadiri upacara pemakaman adat Rambu Solo almarhum Paulus Papa, ayah dari Sekretaris Steering Committee PSI Benidiktus Papa, di Kecamatan Mappak, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026). Kehadiran Kaesang dalam prosesi adat tersebut menjadi wujud empati sekaligus penghormatan terhadap nilai budaya Toraja yang sarat makna kebersamaan.
Dalam acara tersebut, Kaesang tampak duduk bersama Rusdi Masse Mappasessu (RMS) di sebuah pondok sederhana bersama para tamu undangan lainnya. Keduanya duduk lesehan, sejajar meski terpisah meja, mencerminkan suasana kekeluargaan yang hangat. Kaesang hadir mengenakan kemeja hitam, sementara RMS mengenakan kaos polo dan topi dengan warna serupa.
Sekretaris DPD PSI Tana Toraja, Yulianus, menyampaikan bahwa Kaesang tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WITA bersama rombongan DPP PSI serta jajaran DPW PSI Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan DPD PSI Tana Toraja–Toraja Utara.
“Agenda utama beliau adalah menghadiri pemakaman orang tua Benidiktus Papa, almarhum Paulus Papa,” ujar Yulianus.
Perjalanan menuju rumah duka meninggalkan kesan mendalam bagi Kaesang. Rombongan harus melewati Jalan Poros Simbuang–Mappak yang kondisinya rusak dan ekstrem. Jalur tersebut disebut warga telah puluhan tahun belum tersentuh perbaikan signifikan.
“Jalannya cukup menantang dan memacu adrenalin. Saya sampaikan kepada Mas Ketum bahwa kondisi ini sudah dianggap biasa oleh warga setempat. Beliau tampak terkejut,” ungkap Yulianus.
Momentum kunjungan ini pun dimanfaatkan warga untuk menyampaikan aspirasi terkait kondisi infrastruktur. Kaesang disebut menerima langsung keluhan masyarakat dan berjanji akan meneruskannya kepada Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka agar mendapat perhatian serius.
“Mas Kaesang berjanji akan menyampaikan aspirasi warga Simbuang–Mappak langsung kepada Wapres. Kami optimistis, semoga jalan ini segera diperbaiki,” katanya.
Kehadiran Kaesang di Tana Toraja tidak hanya mempererat hubungan personal dan kultural, tetapi juga membuka ruang dialog antara pemimpin muda dan masyarakat akar rumput. Di tengah dinamika politik nasional, momen ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kehadiran langsung di tengah masyarakat tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik.
Sumber: Detiksulsel











