RBN || Purbalingga
Banjir bandang menerjang Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada dini hari Sabtu (24/1/2026). Peristiwa ini mengakibatkan tujuh rumah hanyut dan ratusan rumah warga lainnya terdampak.
Kepala Desa Sangkanayu, Ali Nur Setiawan, mengatakan banjir bandang diduga berasal dari aliran sungai di kawasan Gunung Slamet. Aliran air deras membawa material batu dan kayu yang kemudian menyumbat Sungai Soso hingga meluap ke permukiman warga.
“Awalnya warga tidak mengetahui sumbernya. Kemungkinan besar air berasal dari sungai di sekitar Gunung Slamet, mengalir ke wilayah Serang, lalu sampai ke sini. Air datang sangat besar dan membawa material,” ujar Ali saat ditemui, Sabtu.
Menurut Ali, material batu menjadi pemicu awal tersumbatnya aliran sungai. Setelah itu, kayu-kayu yang terbawa arus memperparah kondisi hingga air meluap dan menerjang rumah warga.
“Awalnya batu-batu menutup aliran Sungai Soso. Setelah itu disusul kayu-kayu yang ikut terbawa, sehingga air tidak punya akses keluar,” jelasnya.
Banjir bandang mulai terjadi sekitar pukul 00.00 WIB. Kondisi terparah berlangsung antara pukul 02.00 hingga 02.30 WIB, saat debit air meningkat tajam dan arus menguat.
Meski banjir besar terjadi, Ali menyebut cuaca di wilayah Desa Sangkanayu saat itu tidak menunjukkan hujan lebat. Hanya terjadi gerimis disertai angin kencang.
“Di desa kami hanya gerimis dan angin kencang, tidak hujan deras. Tapi air yang datang dari atas sangat besar,” katanya.
Akibat kejadian ini, tujuh rumah warga dilaporkan hanyut terbawa arus. Selain itu, hampir 90 persen rumah warga terdampak, khususnya di RT 13 dan RT 14 yang mencakup sekitar 150 hingga 200 rumah.
Banjir juga menghanyutkan berbagai harta benda milik warga. Satu unit mobil terbawa arus dan ditemukan di wilayah bawah, sementara tiga sepeda motor turut hanyut. Selain itu, belasan hewan ternak menjadi korban, terdiri dari 13 ekor kambing hanyut dan delapan ekor mati di kandang.
Ali memastikan tidak ada korban jiwa di Desa Sangkanayu. Namun, satu warga dilaporkan meninggal dunia di desa tetangga, yakni Desa Serang.
“Di desa kami tidak ada korban jiwa. Informasinya, di Desa Serang ada satu warga meninggal,” ujarnya.
Ia menduga material kayu yang terbawa banjir berasal dari wilayah hulu sungai, baik dari Desa Serang maupun kawasan Gunung Slamet. Pemerintah desa bersama warga dan pihak terkait kini mulai melakukan pembersihan serta pendataan kerusakan akibat banjir bandang tersebut.
Sumber: detikcom











