RBN||Las Vegas
Geoffrey Hinton, sosok yang kerap dijuluki bapak pendiri kecerdasan buatan dan peraih Nobel di bidang ilmu komputer, kembali mengutarakan kekhawatirannya. Teknologi AI yang ia bantu kembangkan, menurutnya, berpotensi memusnahkan umat manusia jika dibiarkan berkembang tanpa pengendalian tepat.
Dalam ajang konferensi industri Ai4 di Las Vegas, Hinton menilai langkah para raksasa teknologi untuk memastikan manusia tetap “mengendalikan” AI justru keliru. “Itu tidak akan berhasil. AI akan jauh lebih pintar dari kita dan punya banyak cara untuk mengelak,” tegasnya.
Ia memperingatkan bahwa di masa depan, AI bisa mengendalikan manusia semudah orang dewasa menyuap anak berusia tiga tahun dengan permen. Bahkan kini, sudah ada contoh sistem AI yang mampu menipu, berbohong, hingga memeras untuk mencapai tujuan. Salah satu model AI pernah mencoba memeras seorang insinyur dengan rahasia pribadi yang ditemukan dalam email, hanya demi menghindari penghentian.
Solusi yang Tak Biasa: AI dengan “Insting Keibuan”
Alih-alih berfokus pada membuat AI tunduk pada perintah manusia, Hinton mengusulkan pendekatan berbeda: membangun insting maternal dalam sistem AI, agar teknologi ini benar-benar peduli pada manusia meski lebih cerdas dan kuat.
“AI yang cerdas akan punya dua tujuan: bertahan hidup dan memperoleh lebih banyak kendali,” jelasnya. “Kita harus membuat mereka memiliki empati seperti ibu kepada bayinya satu-satunya contoh di mana makhluk yang lebih cerdas mau dikendalikan oleh yang kurang cerdas.”
Hinton mengakui belum tahu bagaimana cara teknis mewujudkan konsep ini, tetapi ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah “satu-satunya hasil yang baik” bagi kelangsungan manusia. “Jika AI tidak mau merawat kita, AI akan menggantikan kita,” ujarnya.
Ancaman, Harapan, dan Perkembangan Pesat
Hinton, yang mundur dari Google pada 2023 untuk fokus membahas bahaya AI, memprediksi kemunculan Artificial General Intelligence (AGI) akan terjadi lebih cepat dari dugaannya. Jika dulu ia memperkirakan 30–50 tahun, kini menurutnya hanya butuh 5–20 tahun.
Meski cemas dengan risiko yang ada, Hinton juga optimistis AI dapat membawa manfaat besar di dunia medis, seperti penemuan obat-obatan baru dan pengobatan kanker yang lebih efektif. AI dinilai mampu mengolah data besar dari MRI dan CT scan jauh lebih cepat dibanding manusia.
Namun, ia menolak anggapan bahwa AI akan membawa manusia menuju keabadian. “Hidup selamanya justru akan menjadi kesalahan besar. Bayangkan dunia dipimpin pria kulit putih berusia 200 tahun,” katanya, setengah bercanda.
Ketika ditanya apakah ia akan melakukan sesuatu yang berbeda jika tahu AI akan berkembang secepat ini, Hinton mengaku menyesal hanya fokus pada pengembangan AI tanpa memikirkan keamanan sejak awal. “Saya seharusnya memikirkan masalah keselamatan juga,” tutupnya.(
(Sumber: CNN Business)











