RBN || Jakarta
Proses untuk move on sering kali dianggap sebagai hal yang mudah, tetapi kenyataannya lebih kompleks daripada sekadar membuang kalender lama. Waktu mungkin tampak sebagai penyembuh luka, namun secara psikologis, beranjak dari masa lalu adalah perjuangan melawan memori yang terperangkap, meskipun dunia di sekitar kita terus bergerak maju. Banyak yang terjebak dalam satu momen yang telah berlalu, dan meskipun mereka berusaha melupakan, kenangan itu tetap membekas.
Pemulihan emosional bukanlah perjalanan linier. Kadang kita merasa melangkah maju, namun kemudian merasakan kemunduran yang membuat kita merasa seolah tidak ada kemajuan. Ketidakteraturan ini, menurut para ahli, merupakan proses alami otak dalam membentuk ulang identitas diri. Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, otak harus belajar mengatur kembali seluruh aspek kehidupan. Ini adalah proses yang memerlukan ketabahan luar biasa.
Dr. Guy Winch, seorang psikolog terkenal, menjelaskan bahwa otak yang terluka akibat patah hati merespons dengan cara yang mirip dengan seseorang yang mengalami kecanduan. Aktivitas otak mereka dapat menyerupai kecanduan zat, yang menjelaskan mengapa kita merasa cemas dan terobsesi dengan kenangan atau ingin terus mencari kabar dari orang yang sudah pergi. Menurut Winch, pemulihan sejati hanya bisa tercapai ketika kita berhenti mencari penutupan dari luar dan mulai menulis ulang cerita hidup kita sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.
Proses ini, meski melelahkan, merupakan investasi bagi kesehatan mental kita di masa depan. Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk menghadapi rasa sakit, meskipun terasa berat, akan memperkuat ketahanan psikologis kita. Tujuan akhirnya bukan menghapus kenangan, melainkan belajar untuk memandang masa lalu dengan cara yang tidak lagi mengendalikan kebahagiaan kita saat ini dan di masa depan.











