Dari Bau Sampah ke Berkah, Kisah Pengabdian Daniel Ruamba Penjaga TPS di Sorong Timur

  • Share
Penjaga Trmpat Pembuangan Sementara Klamana Sorong Timur, Daniel Ruamba (foto: Istori news)

RBN || Sorong, Papua

Di tengah tumpukan persoalan sampah yang kian menggunung di berbagai daerah, harapan akan lingkungan yang bersih dan sehat dan asri kembali digaungkan dari pusat pemerintahan.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyerukan langkah cepat dan terukur kepada seluruh kepala daerah di Indonesia untuk bergerak bersama menuntaskan persoalan sampah hingga ke pelosok negeri termasuk di Papua Barat Daya.

Di sudut Kota Sorong tepatnya di Kelurahan Klamana, Distrik Sorong Timur, persis di depan terminal tipe B, tumpukan sampah rumah tangga menggunung setiap hari. Bau menyengat dan lalat yang beterbangan menjadi pemandangan biasa namun meresahkan warga sekitar.

Namun di tempat yang kerap dihindari banyak orang itu, Daniel Ruamba justru bertahan, bukan untuk membuang sampah rumah tangga, bukan juga untuk mengais rezeki dari barang rongsokan, melainkan tinggal untuk menjaga dan mengawasi agar warga wajib membuang sampah tepat pada waktunya, yaitu pukul 17.00 WIT.

Sejak 2018 hingga kini 2026, Daniel mengabdikan dirinya sebagai penjaga Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Klamana. Bukan sebagai pegawai tetap, bukan pula tenaga honorer resmi. Ia menjaga karena panggilan hati.

“Bapak bilang (Kadis Lingkungan Hidup Julian Kelly Kambu), mulai hari ini kau jadi penanggung jawab di TPS ini. Kau mulai jaga, sebelum jam 6.00 tidak boleh warga buang sampah,” kenangnya kepada media ini, Rabu (25/2/2026).

Tanpa paksaan, Daniel menerima amanah itu. “Tidak ada yang paksa saya. Saya rela saja bantu pemerintah,” ujarnya.

Perjalanannya tentu tak selalu mulus. Pada 2024, ia mengaku sempat menerima komplain dari seorang oknum pejabat.

“Saya bilang, bagaimana kamu kerja di pemerintahan, kamu balik komplain kita? Kita ini masyarakat biasa, tidak digaji, tidak dapat tunjangan. Kamu yang dapat tunjangan semua, kok komplain?” tuturnya dengan nada tegas.

Bagi Daniel, penghargaan dan saling menghargai adalah hal utama. Ia berharap aparat pemerintah yang datang ke TPS tidak bersikap kasar.

“Kalau datang jangan bentak-bentak. Pemerintah yang buat aturan, bukan kita masyarakat biasa. Kita ini cuma rela bantu untuk jaga TPS supaya teratur,” terang Daniel.

Tak banyak yang tahu, Daniel bukan sekadar penjaga. Ia juga tinggal di sekitar TPS itu. Sudah delapan tahun ia hidup berdampingan dengan tumpukan sampah.

“Saya urus tempat sampah ini seperti saya punya dapur, saya punya rumah,” katanya.

Selama delapan tahun itu, ia mengaku belum pernah menerima honor tetap. Bantuan yang datang lebih banyak berupa perhatian personal dari lurah, Babinsa, atau pejabat lingkungan yang sekadar singgah membeli nasi dan air minum untuknya.

“Kalau dibilang pemerintah kasih honor, tidak ada sampai detik ini. Tapi saya tetap semangat bantu pemerintah,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Di balik kerasnya hidup, Daniel menemukan berkah. Dari sampah yang dibuang warga, ia memilah barang-barang yang masih bernilai jual.

“Saya tidak menyangkal, dari sampah ini juga saya dapat berkat. Ada yang bisa kita ambil, kelola, jual. Itu yang saya pakai beli makan untuk anak-anak,” katanya.

Daniel adalah ayah dari tujuh anak. Dua di antaranya sudah menikah, sementara sisa lainnya masih bersekolah. Dari TPS itulah ia bertahan membiayai kebutuhan keluarga.

“Saya tidak merasa rugi juga walaupun pemerintah belum perhatikan saya. Saya ikhlas saja,” tuturnya.

Sebagai penjaga TPS yang bersentuhan langsung dengan realitas lapangan, Daniel punya harapan besar untuk Kota Sorong.
Ia berharap penanganan sampah tidak hanya fokus pada jalan protokol.

“Jangan cuma sampah di jalan protokoler yang diperhatikan. Di lingkungan masyarakat juga harus diperhatikan. Kadang di belakang-belakang sampai jam 9, jam 10 sampah belum diangkat,” katanya.

Ia juga menyoroti masih adanya pembuangan sampah di sekitar sekolah, seperti di area belakang Yuti dekat SMP 5. Menurutnya, itu tak layak dan perlu tindakan tegas.

“Saya berharap Bapak Wali Kota Sorong buat imbauan keras. Jangan ada yang buang sampah di depan sekolah. Itu tidak boleh,” tegasnya.

Baginya, kebersihan kota adalah tanggung jawab bersama. Ia percaya, jika masyarakat dan pemerintah saling mendukung, wajah kota akan berubah.

“Kalau kita tidak bantu pemerintah, nanti kita cuma bisa tuntut ini-itu. Sekarang sekolah sudah gratis, berobat gratis. Kenapa kita tidak bisa bantu pemerintah,” imbuhnya.

Delapan tahun menjaga TPS Klamana mungkin bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang tak terlihat. Namun bagi Daniel Ruamba, itu adalah bentuk cinta pada kota dan pemerintahannya.

Di tengah bau menyengat dan tumpukan sampah, ia berdiri dengan keyakinan sederhana, membantu walau tanpa bayaran, adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga.

Dan dari tempat yang dianggap kotor itu, Daniel menemukan makna, bahwa pengabdian tak selalu harus dibayar, dan bahwa bahkan dari sampah pun, Tuhan bisa menghadirkan berkat.

 

sumber: Istori News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *