RBN || Jakarta
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, menegaskan bahwa mutasi dr. Piprim Basarah Yanuarso dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ke RSUP Fatmawati merupakan bagian dari strategi pemerataan layanan kesehatan nasional, bukan bentuk hukuman ataupun penyalahgunaan kewenangan.
Azhar membantah klaim bahwa dua Wakil Menteri Kesehatan tidak membenarkan kebijakan tersebut. Menurutnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono hanya meminta klarifikasi terkait alasan perpindahan. “Pak Wamen bertanya, dan itu hal yang wajar. Tidak ada pernyataan penyesalan atau penolakan,” ujarnya.
Isu ini mencuat di tengah sorotan publik, termasuk dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang meminta pembatalan pemberhentian dr. Piprim sebagai aparatur sipil negara (ASN). Namun Azhar menegaskan bahwa keputusan tersebut mengacu pada regulasi yang berlaku. Aturan disiplin ASN, katanya, berada di bawah kewenangan Kementerian PAN-RB, sementara Kemenkes menjalankan ketentuan yang ada.
Lebih jauh, Azhar menjelaskan bahwa mutasi dilakukan demi penguatan layanan kesehatan di berbagai wilayah. RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional telah memiliki fasilitas dan tenaga medis yang memadai. Sementara itu, RSUP Fatmawati dinilai memiliki sarana yang siap berkembang, namun masih membutuhkan penguatan sumber daya manusia.
“Indonesia terlalu besar untuk bertumpu pada satu rumah sakit saja. Kita ingin semua pusat layanan berkembang dan mampu melayani masyarakat secara optimal,” tegasnya.
Terkait pemberhentian sebagai ASN, Azhar menyebut hal itu bukan akibat mutasi, melainkan persoalan disiplin kerja. Ia menyampaikan bahwa dr. Piprim tidak hadir bekerja selama satu bulan berturut-turut setelah dimutasi, meski telah dipanggil dan diingatkan.
Pemerintah, lanjut Azhar, berkomitmen menata sistem kesehatan nasional secara merata dan profesional. Mutasi tenaga medis senior dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat pelayanan, memperluas akses, serta memastikan kualitas kesehatan dapat dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Sumber: detikhealth











