Mensos Gus Ipul Prihatin atas Wafatnya Anak 10 Tahun, Dorong Penguatan Perlindungan Sosial Keluarga Rentan

  • Share
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (3/2/2026). (KOMPAS.com/Rahel)

RBN || Jakarta

Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, menyampaikan rasa duka cita dan keprihatinan mendalam atas meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBS, yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa tragis tersebut menjadi sorotan nasional dan menggugah perhatian berbagai pihak terhadap pentingnya penguatan perlindungan sosial bagi keluarga rentan.

Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Ipul itu menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikannya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

“Tentu kita prihatin dan turut berduka cita. Kejadian ini harus menjadi atensi kita bersama, termasuk pemerintah daerah,” ujar Gus Ipul.

Ia menekankan pentingnya penguatan sistem pendampingan sosial agar keluarga yang berada dalam kondisi sulit dapat terjangkau secara menyeluruh oleh program bantuan pemerintah. Menurutnya, pendataan yang akurat dan berkelanjutan menjadi kunci agar tidak ada keluarga yang luput dari perhatian negara.

“Kita harus memperkuat pendampingan dan data. Kita harapkan tidak ada keluarga yang tidak terdata, sehingga negara bisa hadir tepat waktu dan tepat sasaran,” tegasnya.

Selain pendampingan, Gus Ipul juga menyoroti pentingnya rehabilitasi sosial serta program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga yang membutuhkan. Ia menilai, perlindungan sosial tidak hanya bersifat bantuan sesaat, tetapi harus mampu membangun ketahanan keluarga secara berkelanjutan.

“Ini hal yang sangat penting. Dengan data yang baik, kita bisa menjangkau keluarga yang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan, agar mereka dapat bangkit dan hidup lebih sejahtera,” lanjutnya.

Diketahui, YBS, siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga, sebagaimana dilaporkan Kompas.id pada Senin (2/2/2026).

Peristiwa ini menyedot perhatian publik secara luas dan memunculkan keprihatinan mendalam terhadap tekanan sosial dan ekonomi yang dapat berdampak pada kondisi psikologis anak. Sejumlah anggota DPR bahkan mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengusut tuntas kasus ini dan memastikan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan berempati terhadap kondisi peserta didik.

Kasus YBS menjadi pengingat penting bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi menciptakan sistem yang lebih peka terhadap kondisi sosial, demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

Sumber: Kompas.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *