RBN || Jakarta
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dunia teknologi kini juga mulai menatap era baru komputasi melalui kehadiran komputer kuantum. Teknologi ini diyakini memiliki kemampuan jauh lebih besar dibanding komputer konvensional dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sangat kompleks.
Namun, di balik potensi besar tersebut, komputer kuantum juga memunculkan kekhawatiran baru, terutama terkait keamanan siber. Para ahli menilai teknologi ini berpotensi mengubah sistem perlindungan data yang saat ini digunakan secara luas di seluruh dunia.
Principal Solutions Engineer F5 Indonesia, Danang Suryana, mengatakan kemampuan komputasi yang dimiliki komputer kuantum dapat menjadi tantangan serius bagi sistem enkripsi modern yang selama ini dianggap aman.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah “Q-Day”, yakni kondisi ketika komputer kuantum telah memiliki kemampuan untuk membobol algoritma kriptografi yang saat ini digunakan untuk melindungi berbagai jenis data digital.
“Q-Day adalah momen ketika komputer kuantum memiliki kemampuan untuk memecahkan (crack) algoritma kriptografi modern yang selama ini dianggap aman,” kata Danang kepada KompasTekno di sela acara “F5 Solution Day” di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (9/6/2026).
Meski demikian, Danang menjelaskan bahwa teknologi komputer kuantum saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum mencapai kemampuan tersebut. Namun, berbagai terobosan yang dilakukan perusahaan teknologi global menunjukkan bahwa ancaman itu perlu mulai diantisipasi sejak sekarang.
Salah satu contoh yang disoroti adalah peluncuran chip kuantum terbaru milik Microsoft, Majorana 2. Chip tersebut dirancang sebagai fondasi pengembangan komputer kuantum yang lebih stabil dan mampu menangani komputasi berskala besar di masa mendatang.
Menurut Danang, ketika teknologi komputer kuantum telah matang dan digunakan secara luas, berbagai sistem keamanan digital yang ada saat ini berpotensi tidak lagi efektif.
“Apabila komputer kuantum matang dan tersedia secara luas, metode enkripsi yang saat ini dipakai untuk mengamankan transaksi perbankan, komunikasi digital, hingga penyimpanan data di cloud berpotensi menjadi rentan,” imbuh Danang.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman komputer kuantum tidak hanya menyasar data di masa depan. Pelaku kejahatan siber bisa saja mulai mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk disimpan dan dibuka di kemudian hari ketika kemampuan komputer kuantum sudah memadai.
Strategi tersebut dikenal sebagai harvest now, decrypt later, yakni mencuri data sekarang dan menunggu teknologi berkembang untuk membukanya di masa mendatang.
Jika Q-Day benar-benar terjadi, data yang selama ini dianggap aman karena dilindungi enkripsi berpotensi dapat diakses dengan lebih mudah menggunakan kekuatan komputasi kuantum. Karena itu, berbagai pihak di industri teknologi mulai mendorong pengembangan sistem keamanan baru yang mampu menghadapi era komputasi kuantum di masa depan.
Sumber: Kompas.com











