RBN || Jakarta
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Sejumlah ekonom menilai pelemahan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan penguatan dolar AS, tetapi juga diperparah oleh faktor domestik, terutama melemahnya kinerja perdagangan Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya mencapai sekitar US$90 juta. Angka tersebut merosot tajam dibandingkan surplus pada Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar. Secara kumulatif, surplus perdagangan selama Januari hingga April 2026 juga turun signifikan dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi hanya US$5,64 miliar. Penurunan surplus ini menunjukkan berkurangnya pasokan devisa dari sektor perdagangan yang dapat menopang kekuatan rupiah.
Menurut data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sesi I pukul 12.00 WIB, Rabu (3/6/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp17.925 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut menjadi level terburuk yang pernah dicapai rupiah sepanjang sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Pelemahan yang terus berlanjut ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai efektivitas kebijakan moneter yang telah ditempuh Bank Indonesia.
“Menurut data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sesi I pukul 12.00 WIB, Rp17.925/US$. Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa terhadap greenback. Pelemahan ini memicu pertanyaan, apakah kenaikan BI Rate, suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kurs rupiah, belum maksimal?”. Kondisi tersebut menjadi sorotan karena sebelumnya Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan tekanan di pasar keuangan.
Para ekonom menilai bahwa kenaikan suku bunga saja mungkin belum cukup untuk mengatasi tekanan yang berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Selain menjaga stabilitas moneter, diperlukan langkah-langkah lain untuk memperkuat fundamental ekonomi, termasuk meningkatkan daya saing ekspor, menjaga surplus perdagangan, serta mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Dengan tekanan yang masih berlangsung, pasar kini menantikan kebijakan lanjutan dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Sumber: CNBC Indonesia











