Minuman Bersoda Dinilai Minim Manfaat dan Berisiko bagi Kesehatan Jika Dikonsumsi Harian

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Freepik)

RBN || Jakarta

Minuman berkarbonasi atau soda masih menjadi pilihan banyak orang karena rasanya yang menyegarkan dan mudah ditemukan. Namun di balik popularitasnya, para ahli gizi mengingatkan bahwa konsumsi soda secara rutin, termasuk varian bebas gula, berpotensi membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Ahli diet terdaftar asal Kanada, Brittany Brown, menegaskan bahwa soda sebenarnya tidak memberikan manfaat nutrisi yang berarti meski dapat menyumbang asupan cairan.

“Meskipun soda secara teknis berkontribusi pada asupan cairan, tapi sangat sedikit manfaat nutrisinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyak produk soda mengandung kafein, gula tambahan, atau pemanis buatan, serta asam fosfat yang berisiko terhadap kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

“Banyak jenis yang mengandung kafein, gula tambahan atau pemanis, dan asam fosfat yang terkait dengan peningkatan gula darah dan erosi gigi ketika dikonsumsi secara sering,” tambahnya.

Senada dengan itu, ahli diet berbasis nabati Annamarie Rodriguez menyebut kandungan kafein dalam soda dapat memicu dehidrasi, kegelisahan, hingga gangguan tidur, terutama jika dikonsumsi pada malam hari.

“Inti dari minuman berkarbonasi yang lezat dan sering kali menyegarkan ini adalah, di luar dorongan energi cepat yang terkait dengan gula atau kafein, soda tidak menawarkan manfaat kesehatan,” tuturnya.

Rodriguez juga mengingatkan bahwa konsumsi soda dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan serta lonjakan gula darah, terutama bagi penderita diabetes. Bahkan, varian soda bebas gula tetap memiliki risiko karena kandungan pemanis buatan yang dapat memicu ketergantungan.

Selain itu, pemanis buatan juga disebut dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, memicu gangguan pencernaan, hingga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan risiko diabetes tipe dua.

Di sisi lain, ahli diet Jessica Brantley-Lopez menilai tren soda “sehat” yang mengandung prebiotik dan probiotik perlu disikapi dengan hati-hati.

“Beberapa soda yang diberi label sebagai soda ‘sehat’ mengandung bahan-bahan bermanfaat seperti prebiotik dan probiotik, serta memiliki gula yang jauh lebih sedikit daripada soda tradisional,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa manfaat tersebut belum tentu optimal karena kandungan probiotik dalam minuman kemasan bisa berkurang selama proses pengolahan dan penyimpanan.

Lebih jauh, konsumsi soda secara rutin juga dapat memicu lonjakan gula darah berulang yang mendorong pembentukan lemak dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko obesitas.

“Penelitian menunjukkan, bahkan peningkatan sederhana dalam asupan minuman manis dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe dua, sedangkan mengganti soda dengan air, teh, atau kopi menurunkan risiko itu,” ujar Brown.

Rodriguez menambahkan, kebiasaan minum soda setiap hari juga dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya.

“Minum soda setiap hari dapat menyebabkan penambahan berat badan dan resistensi insulin, dan risiko ini dapat dikaitkan dengan kondisi kronis tambahan seperti sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular. Bagi penderita diabetes, asupan soda juga mengganggu manajemen gula darah,” ucapnya.

Selain itu, konsumsi kafein berlebih dari soda juga berdampak pada kesehatan mental. Brantley-Lopez menyebut, hal ini dapat meningkatkan kecemasan serta mengganggu kualitas tidur.

Para ahli pun menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih minuman sehari-hari dengan mengutamakan air putih atau minuman alami yang lebih sehat demi menjaga keseimbangan tubuh dalam jangka panjang.

Sumber: Kompas.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *