Varian Baru Covid-19 “Cicada” Terdeteksi di 20 Negara, Otoritas Kesehatan Waspada

  • Share
Ilustrasi virus. (Foto: Freepik)

RBN || Jakarta

Varian baru Covid-19 yang dikenal dengan nama “Cicada” mulai menjadi perhatian dunia setelah terdeteksi di lebih dari 20 negara dan memiliki jumlah mutasi yang tinggi. Varian dengan kode BA.3.2 ini kini tengah dipantau secara ketat oleh otoritas kesehatan global karena potensi penyebarannya.

Mengutip laporan USA Today (25/3/2026), varian BA.3.2 telah ditemukan di sekitar 22 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, serta sejumlah negara di kawasan Eropa. Di Amerika Serikat, varian ini bahkan telah terdeteksi di berbagai wilayah melalui pemantauan sampel limbah, yang digunakan untuk melacak penyebaran virus di masyarakat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa varian ini termasuk yang perlu diwaspadai karena menunjukkan peningkatan kasus dalam pemantauan rutin.

“Pemantauan penyebaran BA.3.2 memberikan informasi penting terkait kemampuannya menghindari kekebalan dari infeksi sebelumnya atau vaksinasi,” tulis CDC dalam laporannya.

Meski belum menjadi varian dominan, kemunculan BA.3.2 di berbagai negara menunjukkan bahwa virus Covid-19 masih terus berevolusi.

Nama “Cicada” sendiri disematkan karena varian ini sempat tidak terdeteksi dalam waktu yang cukup lama sebelum kembali muncul. Varian ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada November 2024 dari sampel saluran pernapasan.

Selama beberapa waktu, jumlah kasusnya tercatat rendah dalam database pemantauan genetik. Namun, sejak 2025 hingga awal 2026, jumlah kasusnya mulai meningkat secara signifikan.

Para ahli menyebut varian ini memiliki sekitar 70 hingga 75 mutasi, jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan varian sebelumnya seperti JN.1.

Direktur medis National Foundation for Infectious Diseases (NFID), dr. Robert H. Hopkins Jr., menjelaskan bahwa banyaknya mutasi tersebut membuat varian ini cukup berbeda secara genetik dibandingkan varian yang beredar sebelumnya.

Meski demikian, dari sisi gejala, varian Cicada tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan varian Covid-19 sebelumnya. Gejala yang umum dilaporkan meliputi demam, batuk, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, pilek, hingga hilangnya indera penciuman atau perasa. Selain itu, sakit tenggorokan parah juga menjadi salah satu gejala yang cukup sering muncul.

“Saya belum melihat data yang menunjukkan varian ini lebih parah dibandingkan varian yang beredar saat ini,” kata Hopkins.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun varian tersebut memiliki banyak mutasi, dampaknya terhadap tingkat keparahan penyakit belum menunjukkan perubahan signifikan.

Meski demikian, para ahli kesehatan tetap mengingatkan pentingnya langkah pencegahan. Pakar kesehatan dari New York Institute of Technology College of Osteopathic Medicine, Rajendram Rajnarayanan, menyarankan masyarakat untuk segera melakukan tes jika mengalami gejala.

“Jika positif, tetap di rumah sampai sembuh dan gunakan masker N95 saat berada di sekitar orang lain,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya vaksinasi dan booster untuk membantu mengurangi risiko gejala berat. Selain itu, menjaga kebersihan dan memantau kondisi kesehatan tetap menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran virus.

Kemunculan varian Cicada menjadi pengingat bahwa pandemi belum sepenuhnya berakhir, dan kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.

Sumber: Kompas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *