RBN || Jakarta
Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan hebat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam sepanjang perdagangan Rabu (3/6/2026). Dalam waktu sekitar lima jam perdagangan, IHSG terus berada di zona merah hingga mencatatkan salah satu kinerja terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang telah membayangi pasar saham domestik dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, IHSG telah mengalami penurunan sekitar 34,96 persen dalam enam bulan terakhir dan kembali menyentuh level terendah sejak periode pandemi COVID-19. Sementara itu, Bloomberg Technoz melaporkan IHSG ditutup di level 5.941 atau melemah 4,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, menjadikannya salah satu indeks saham dengan performa terburuk di dunia pada hari tersebut.
Tekanan jual yang masif dipicu oleh sejumlah sentimen fundamental yang memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. CNBC Indonesia menyebut terdapat tiga faktor utama yang mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi dan investasi nasional.
Kondisi ini bukan pertama kali terjadi sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, IHSG juga sempat mengalami tekanan berat hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada akhir Januari 2026 akibat penurunan yang sangat tajam. Rentetan pelemahan tersebut menunjukkan tingginya volatilitas yang masih membayangi pasar modal Indonesia sepanjang tahun ini.
Anjloknya IHSG menjadi perhatian serius karena mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di Indonesia. Para pelaku pasar kini menantikan langkah pemerintah, regulator, dan otoritas keuangan untuk memulihkan kepercayaan investor serta menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tekanan yang masih berlangsung.
Sumber: CNBC Indonesia











