RBN || Sukoharjo
Di tengah suasana Ramadan, puluhan mantan karyawan PT Sritex menggelar aksi solidaritas bertajuk “1 Tahun Sritex Tumbang” di depan bekas pabrik PT Sritex, Kecamatan Sukoharjo, Sabtu (28/2/2026). Tepat satu tahun lalu, mereka mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) massal setelah perusahaan tekstil tersebut dinyatakan pailit.
Aksi dimulai sekitar pukul 16.00 WIB di gerbang utama pabrik dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Meski langit mendung dan hujan akhirnya turun deras, massa tetap bertahan menyampaikan aspirasi secara damai.
Sebuah spanduk bertuliskan “Satu Tahun Sritex Tumbang, Satu Tahun Hak Tak Kunjung Datang” dipasang di pagar pabrik. Para peserta membawa bendera merah putih dan bendera aliansi eks buruh. Aksi diisi dengan pembacaan puisi dan doa bersama sebagai bentuk solidaritas dan harapan.
Sekitar pukul 16.50 WIB, aksi berakhir setelah hujan deras mengguyur lokasi. Karena aksi berlangsung tertib, rekayasa lalu lintas di Jalan KH Samanhudi tidak diberlakukan.
Koordinator aksi, Agus Wicaksono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan aksi damai ketiga yang digelar mantan buruh untuk mendesak kurator segera membayarkan hak-hak karyawan. Aksi sebelumnya dilakukan pada 10 November 2025 dan 12 Januari 2026.
“Hari ini adalah satu tahun kita menjalani PHK, yang mana ini jadi pengingat kita bahwa kita pernah berada di dalam pabrik dan sekarang kita di-PHK,” kata Agus kepada awak media.
Menurut Agus, kurator telah melakukan dua kali lelang aset berupa kendaraan, namun hasilnya belum sesuai harapan.
“Kami menunggu lelang ketiga, mudah-mudahan lelang ketiga harganya sudah jauh berbeda dari lelang pertama dan kedua. Karena betul-betul sangat kami harapkan uang itu untuk pembayaran hak-hak kami,” imbuhnya.
Ia menegaskan para eks karyawan masih menunggu kepastian pembayaran pesangon yang hingga kini belum diterima.
“Kita ingin mengingatkan kepada kurator, segeralah membayarkan hak-hak kami, karena sudah satu tahun lamanya kita menunggu dengan penuh ketidakpastian. Kami harap dari kurator ada transparansi informasi tentang progres pemberesan harta pailit dan sebagainya,” pungkasnya.
Para mantan buruh berharap proses pemberesan aset pailit dapat segera selesai agar hak-hak mereka bisa dibayarkan, terutama di tengah kebutuhan ekonomi yang meningkat selama Ramadan dan menjelang Lebaran.
Sumber: Detik News











