RBN || Jakarta
Keluarga Silat Nasional Perisai Diri berdiri pada 2 Juli 1955 di Surabaya, Jawa Timur. Perguruan ini didirikan oleh Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo dengan cita-cita mulia: menjadikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang membentuk karakter, disiplin, dan moralitas.
Dari semangat itu lahirlah semboyan legendaris, “Satu Detik Dua Gerak”. Kalimat sederhana ini menjadi simbol kecerdasan dan ketangkasan para pesilat Perisai Diri. Filosofinya menekankan pentingnya berpikir cepat dan bertindak tepat dalam menghadapi setiap situasi baik di arena silat maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Perisai Diri, bela diri bukan hanya tentang serangan atau pertahanan, melainkan tentang membaca situasi, mengantisipasi lawan, dan menyeimbangkan kekuatan fisik dengan kejernihan pikiran. “Satu Detik Dua Gerak” mengajarkan bagaimana ketangkasan sejati tidak sekadar diukur dari kecepatan tubuh, tetapi juga dari kecerdasan berpikir dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Filosofi ini membentuk karakter para pesilat untuk selalu tenang dalam tekanan, cepat dalam berpikir, dan sigap dalam mengambil keputusan. Dalam konteks kehidupan modern, maknanya meluas: bagaimana seseorang dapat beradaptasi dengan perubahan cepat tanpa kehilangan arah dan nilai-nilai kemanusiaan.
Lebih dari enam dekade kemudian, semboyan ini masih menjadi napas perjuangan ribuan anggota Perisai Diri di Indonesia dan luar negeri. Ia menjadi pengingat bahwa hakikat bela diri bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menguasai diri sendiri.
“Satu Detik Dua Gerak” bukan sekadar semboyan bela diri, tetapi filosofi hidup tentang keseimbangan antara tenaga dan logika, antara kecepatan dan kebijaksanaan serta sebuah warisan nilai luhur dari Perisai Diri untuk generasi masa kini dan mendatang.
________
Artikel ini disarikan dari berbagai sumber oleh Agung Patera (Tingkat Merah)











