RBN || Jakarta
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme agar tetap mampu bekerja di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian. Pesan tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam pidato kunci pada Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-10 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.
Dalam pidatonya, Menlu Sugiono menekankan bahwa politik luar negeri bebas aktif bukan hanya tetap relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan dalam menghadapi dinamika geopolitik global saat ini. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan diwarnai rivalitas strategis, bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri, sekaligus tetap aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.
“Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” jelas Menlu Sugiono.
Menlu juga menggarisbawahi bahwa kelemahan sistem multilateral saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan multilateralisme. Sebaliknya, sistem tersebut harus diperbaiki agar lebih representatif, inklusif, adaptif, dan efektif. “Tata kelola global yang dibangun pada 1945 perlu terus diperbarui agar tetap relevan dalam menghadapi realitas dunia tahun 2045,” ujar Menlu Sugiono.
Dalam konteks tersebut, Indonesia akan mempertahankan dan memperbaiki sistem multilateralisme, dengan terus mendorong reformasi tata kelola global, termasuk Dewan Keamanan PBB yang lebih transparan, demokratis, efektif, dan akuntabel. Indonesia juga akan terus menyuarakan kepentingan tersebut melalui berbagai forum. “Partisipasi di BRICS, peran aktif di G20, kepemimpinan di ASEAN, keterlibatan di D-8 dan dengan Global South, serta proses aksesi menuju OECD, semuanya merupakan bagian dari prinsip yang sama yaitu memperluas ruang strategis diplomasi Indonesia,” jelas Menlu Sugiono.
Menlu juga menekankan bahwa diplomasi yang efektif harus ditopang oleh ketahanan nasional yang kuat. “Ketahanan pangan adalah otonomi strategis. Ketahanan energi adalah keamanan nasional. Sumber daya manusia adalah kapasitas geopolitik. Dan teknologi bukan hanya inovasi, tetapi juga kekuatan,” tegas Menlu Sugiono.
Menutup pidatonya, Menlu Sugiono menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus hadir dan mempertahankan multilateralisme. “Multilateralisme masih dapat bekerja, tapi tidak bisa berjalan secara autopilot.” pungkas Menlu Sugiono.
JGF merupakan forum tahunan yang diselenggarakan Lemhannas RI untuk membahas berbagai isu geopolitik global. Forum ini mempertemukan peserta dari kalangan pemerintah, militer, akademisi, think tank, organisasi internasional, swasta, dan media.
___________________________
Sumber: Kementerian Luar Negeri RI











