RBN || Jakarta
Di era ketika kebahagiaan dipamerkan seperti etalase, manusia diam-diam menjadi makhluk yang letih. Letih tampil kuat, letih terlihat sukses, letih membuktikan dirinya pada dunia yang terus menatap tanpa benar-benar melihat. Di balik wajah-wajah yang tersenyum dalam bingkai digital, banyak jiwa sesungguhnya sedang berjuang menjaga diri agar tidak runtuh. Narsisme yang kerap dipahami sebagai cinta diri berlebihan, justru dalam pandangan psikologi modern sering menjadi tanda paling keras bahwa seseorang sedang kosong, sunyi, dan kelelahan menjadi hebat.
Pemikir humanistik Erich Fromm pernah mengingatkan bahwa narsisme bukan sekadar sifat, melainkan mekanisme pelarian dari kebebasan. Kebebasan, menurut Fromm, selalu datang beriringan dengan tanggung jawab untuk mengenali diri dan menentukan arah hidup. Di tengah arus digital yang memuja penampilan, manusia menjadi takut pada ruang hening dalam dirinya sendiri. Mereka membangun identitas seperti panggung: penuh lampu, penuh tepuk tangan, namun kosong di belakang layar.
Kehidupan daring pun berubah menjadi gelanggang kompetisi. Setiap unggahan menjadi ladang perbandingan, setiap like terasa seperti oksigen emosional. Orang berlari semakin kencang untuk tampil sempurna, padahal tubuh batinnya sudah kelelahan. Fenomena ini tak hanya persoalan perilaku individual, tetapi gejala sosial yang tumbuh dari masyarakat yang menilai seseorang berdasarkan impresi, bukan kedalaman.
Investigasi terhadap pola ini menunjukkan kaitan kuat antara narsisme dan krisis eksistensial. Ketika seseorang merasa tak memiliki nilai yang stabil, ia menggantungkan harga dirinya pada sorotan orang lain. Validasi eksternal menjadi kompas hidup, padahal arah yang ditunjukkan sering kali menyesatkan. Para ahli menyebutnya sebagai lingkaran setan: semakin seseorang ingin diakui, semakin ia kehilangan dirinya sendiri.
Media sosial mempercepat pusaran itu. Algoritma mengalihkan perhatian ke mereka yang paling heboh, paling dramatis, paling pandai mengemas hidup menjadi pertunjukan. Ketenaran digital akhirnya menjadi candu, seolah menjadi obat untuk luka yang tak pernah sembuh. Di balik segala sorot itu, ada manusia-manusia yang takut menatap kekosongan yang mereka sembunyikan.
Fromm menawarkan jalan pulang yang tidak mudah, tetapi mungkin satu-satunya: kembali membangun keutuhan diri melalui cinta yang matang, keberanian menghadapi kesepian, dan kejujuran mengenali cacat-cela diri sendiri. Ia percaya bahwa kebebasan bukan kutukan, melainkan kesempatan untuk benar-benar hidup.
Di tengah dunia yang menuntut manusia untuk selalu tampak hebat, barangkali bentuk keberanian terbesar hari ini adalah mengakui bahwa kita tidak selalu kuat. Bahwa menjadi nyata lebih penting daripada menjadi sempurna. Bahwa hidup tanpa topeng terkadang lebih membebaskan daripada hidup dalam sorotan palsu yang melelahkan.











