RBN || Jepang (BBC)
Peringatan yang diiringi doa hening diadakan di Jepang pada Rabu (6/8) untuk menandai 80 tahun sejak Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima.
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menghadiri upacara tersebut bersama para pejabat dari seluruh dunia dan Walikota Hiroshima, Kazumi Matsui.
Matsui mengatakan adanya “tren global yang semakin cepat menuju pembangunan militer… [dan] gagasan bahwa senjata nuklir sangat penting bagi pertahanan nasional”, dan mengatakan bahwa hal ini adalah “pengabaian terhadap pelajaran yang seharusnya dipelajari komunitas internasional mengenai tragedi sejarah”.
Perang Dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.
Bom atom tersebut menewaskan lebih dari 200.000 orang, sebagian akibat ledakan langsung, serta sebagian lagi akibat radiasi dan luka bakar. Hingga saat ini, trauma masih menghantui para penyintas.
“Ayah saya terbakar dan buta akibat ledakan itu. Kulitnya terlepas dari tubuhnya, ia bahkan tidak bisa memegang tangan saya,” ujar Shingo Naito, penyintas bom Hiroshima. Ia berusia enam tahun ketika bom menghantam kotanya yang menewaskan ayah dan dua adiknya.
Pada tahun 2024, Nihon Hidankyo, kelompok penyintas bom atom Hiroshima memenangkan Nobel Perdamaian atas upaya mereka untuk membersihkan dunia dari senjata nuklir.
Dalam pidatonya, Walikota Matsui mengatakan bahwa Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, yang bertujuan untuk mencegah peredaran senjata nuklir dan mendorong penggunaan energi nuklir secara damai berada diambang disfungsi. Ia meminta pemerintah Jepang untuk meratifikasi Perjanjian Larangan Senjata Nuklir, perjanjian internasional yang melarang senjata nuklir mulai berlaku sejak tahun 2021.
Lebih dari 70 negara telah meratifikasi perjanjian tersebut, namun negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir seperti Amerika Serikat dan Rusia menentangnya. Jepang juga menolak larangan tersebut dengan alasan bahwa keamanan senjata nuklir ditingkatkan oleh Amerika Serikat.
Isu nuklir menjadi isu pemecah belah di Jepang. Di jalan-jalan menuju Taman Peringatan Perdamaian, terjadi aksi protes kecil-kecilan yang menuntut penghapusan senjata nuklir.
Satoshi Tanaka, penyintas bom atom lainnya yang menderita kanker akibat paparan radiasi, mengatakan bahwa pertumpahan darah di Gaza dan Ukraina saat ini mengingatkan terhadap penderitaannya.
“Melihat tumpukan puing-puing bangunan, kota-kota yang hancur, anak-anak dan perempuan yang melarikan diri dengan panik, semuanya mengingatkan saya pada apa yang telah saya alami. Kita hidup berdampingan dengan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia,” ujarnya.
“Prioritas paling mendesak adalah mendorong pemimpin negara-negara yang memiliki senjata nuklir. Masyarakat dunia harus menyuarakan pendapat mereka lebih keras dan mengambil tindakan besar-besaran.”












