Iran Ajukan Proposal ke AS, Fokus Buka Selat Hormuz dan Akhiri Perang

  • Share
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Foto: Iranian Foreign Ministry/Anadolu via Getty Images)

RBN || Teheran

Iran mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat yang berfokus pada pembukaan Selat Hormuz dan penghentian perang, dengan menunda pembahasan isu sensitif terkait program nuklir untuk tahap berikutnya. Informasi ini disampaikan oleh sumber kawasan Teluk dan regional, seperti dilaporkan NBC News.

Proposal tersebut pertama kali diungkap oleh Axios dan telah dibahas dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin. Namun, belum jelas sejauh mana proposal itu akan dipertimbangkan secara serius oleh Washington.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa tuntutan AS agar Iran menghentikan program pengayaan nuklir masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi.

“Garis merah presiden terkait Iran sudah sangat jelas, tidak hanya bagi publik Amerika, tetapi juga bagi mereka,” kata Leavitt kepada wartawan. “Saya tidak akan mengatakan mereka sedang mempertimbangkannya. Saya hanya mengatakan bahwa ada diskusi pagi ini yang belum bisa saya jelaskan lebih jauh.”

Ia menambahkan, “Anda akan segera mendengar langsung dari presiden terkait hal ini.”

Sementara itu, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dijadwalkan menggelar pertemuan untuk membahas proposal Iran. Bagi sekutu AS di kawasan, pembukaan Selat Hormuz dan kelancaran kembali distribusi minyak menjadi prioritas utama.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan global yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Saat ini, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut masih terhenti akibat ketegangan yang berlarut.

Di tengah kebuntuan negosiasi, Trump mendesak Teheran untuk segera menghubungi jika ingin mencapai kesepakatan. Ia bahkan membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Pakistan yang sebelumnya dirancang untuk membuka jalur diplomasi langsung.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat melakukan perjalanan ke Islamabad untuk menyampaikan proposal tersebut melalui pihak mediator Pakistan. Namun, ia menolak bertemu langsung dengan pejabat AS.

Araghchi kemudian melanjutkan perjalanan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin. Dalam pernyataannya, ia menegaskan posisi Iran dalam menghadapi tekanan internasional.

“Iran sedang melawan kekuatan super terbesar di dunia,” ujarnya. Ia juga menilai Amerika Serikat belum mencapai satu pun tujuannya, sehingga kini meminta negosiasi.

Putin menyatakan dukungannya terhadap Iran, seraya memuji keteguhan rakyat negara tersebut.

“Saya melihat bagaimana rakyat Iran berjuang dengan berani dan heroik untuk kemerdekaan mereka,” kata Putin, sembari menegaskan Rusia akan melakukan segala hal yang sesuai dengan kepentingan Iran dan kawasan.

Di sisi lain, Araghchi juga menyalahkan tuntutan berlebihan dan pendekatan yang keliru dari Amerika Serikat sebagai penyebab mandeknya perundingan damai.

Meski gencatan senjata telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump, pembicaraan langsung antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan. Kedua pihak masih berselisih dalam berbagai tuntutan utama.

Sementara itu, dampak ketegangan geopolitik mulai terasa secara global. Harga minyak dunia kembali melonjak, dengan harga minyak Brent mencapai 107 dolar AS per barel. Harga bensin di Amerika Serikat juga naik hingga 4,11 dolar per galon.

Beberapa pemimpin dunia pun mulai mengkritik strategi negosiasi yang digunakan AS. Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai pendekatan tersebut kurang efektif.

“Iran tampaknya sangat mahir dalam bernegosiasi, atau justru sangat mahir untuk tidak bernegosiasi,” ujarnya.

Hingga kini, situasi di Selat Hormuz masih menjadi titik krusial yang menentukan stabilitas ekonomi global. Iran terus memanfaatkan posisinya di jalur tersebut sebagai tekanan strategis terhadap perekonomian dunia.

Sumber: NBC News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *