Korea Utara Resmikan Museum Memorial Tentara, Perkuat Kerja Sama dengan Rusia

  • Share
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. (Foto: ABC News)

RBN || Pyongyang

Korea Utara meresmikan museum memorial untuk mengenang tentaranya yang gugur saat bertempur bersama Rusia dalam konflik melawan Ukraina. Peresmian ini juga menjadi simbol penguatan kerja sama antara kedua negara.

Pada April 2025, Korea Utara dan Rusia mengumumkan bahwa pasukan mereka bertempur bersama untuk menghadapi serangan Ukraina di wilayah perbatasan Kursk, Rusia. Meski jumlah pasti pasukan tidak diungkapkan, badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 15.000 tentara Korea Utara dikerahkan, dengan sekitar 2.000 di antaranya dilaporkan tewas.

Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), upacara peresmian museum digelar di Pyongyang pada Minggu (26/4/2026) untuk memperingati satu tahun berakhirnya operasi pembebasan wilayah Kursk. Acara tersebut dihadiri langsung oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta sejumlah pejabat tinggi Rusia, termasuk Ketua Duma Negara Vyacheslav Volodin dan Menteri Pertahanan Andrei Beloussov.

Dalam prosesi tersebut, Kim Jong Un terlihat menaburkan tanah di atas jenazah salah satu tentara yang gugur dan meletakkan bunga untuk korban lainnya yang telah ditempatkan di ruang persemayaman. Ia bersama para pejabat Rusia juga menuliskan pesan di buku tamu museum.

Dalam pidatonya, Kim menyatakan bahwa arwah para tentara yang gugur akan menjadi simbol kepahlawanan rakyat Korea Utara sekaligus mendukung perjalanan kemenangan bersama antara rakyat Korea Utara dan Rusia. Ia juga memuji kerja sama militer kedua negara dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai “rencana hegemonik dan petualangan militer Barat yang dipimpin Amerika Serikat” di medan konflik Rusia-Ukraina.

Dalam pertemuan terpisah dengan Menteri Pertahanan Rusia, Kim menegaskan dukungan penuh Korea Utara terhadap kebijakan Rusia dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan keamanannya.

Sementara itu, dalam surat yang dibacakan oleh Volodin, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut museum tersebut sebagai simbol kuat persahabatan dan solidaritas antara kedua negara. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa hubungan strategis Korea Utara dan Rusia akan terus diperkuat.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Kim Jong Un diketahui menjadikan Moskow sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya, termasuk dengan mengirim pasukan dan persenjataan konvensional. Sebagai imbalannya, Korea Utara diyakini menerima bantuan ekonomi dan dukungan lainnya dari Rusia.

Namun, langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran dari Korea Selatan, Amerika Serikat, dan sekutunya. Mereka khawatir Rusia dapat mentransfer teknologi canggih yang berpotensi memperkuat program nuklir dan rudal Korea Utara.

Para ahli menilai, pada awal keterlibatan, pasukan Korea Utara menjadi sasaran empuk serangan drone dan artileri karena kurangnya pengalaman tempur dan ketidaktahuan terhadap medan. Meski demikian, pejabat militer dan intelijen Ukraina menilai pasukan tersebut kini mulai memperoleh pengalaman tempur yang signifikan dan menjadi bagian penting dari strategi Rusia dalam menghadapi Ukraina, khususnya di wilayah Kursk.

Sumber: ABC News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *