RBN || Bali
Bahasa dan Sastra Bali kini menempati posisi penting di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing. Tak lagi sekadar pelajaran muatan lokal, keduanya telah bertransformasi menjadi simbol kebanggaan dan identitas generasi muda Bali yang tumbuh di era digital. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, pendidikan menjadi benteng utama dalam menjaga bahasa daerah agar tetap hidup, relevan, dan diminati oleh Generasi Z.
Komitmen ini memiliki dasar hukum yang kuat melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang perlindungan, penggunaan, dan pengembangan Bahasa, Aksara, serta Sastra Bali di seluruh jenjang pendidikan. Implementasinya diwujudkan dalam berbagai kegiatan nyata, seperti peringatan tahunan Bulan Bahasa Bali yang melibatkan sekolah, universitas, dan komunitas masyarakat. Kegiatan seperti lomba menulis aksara Bali (nyurat), berpidato (pidarta), mendongeng (masatua), hingga tembang tradisional menjadi ajang bagi anak muda untuk mengekspresikan diri dan menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa ibu mereka.
Tak berhenti di situ, dunia pendidikan di Bali kini mengadopsi pendekatan Project-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Bali. Siswa tidak hanya diajak memahami tata bahasa dan aksara, tetapi juga dilatih mencipta karya sastra; seperti puisi, cerpen, hingga drama berbahasa Bali yang relevan dengan realitas kehidupan mereka. Para guru pun aktif menghasilkan karya orisinal yang dijadikan bahan ajar kontekstual. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih hidup, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.
Transformasi digital turut menjadi katalis utama. Platform seperti BASAbali Wiki menghadirkan kamus interaktif dan konten edukatif daring yang mudah diakses oleh pelajar dan pengajar. Melalui teknologi ini, bahasa ibu tidak lagi terbatas di ruang kelas, tetapi juga menjelajah ke media sosial dan platform digital yang akrab dengan Gen Z. Bahasa Bali kini hadir dalam format kekinian seperti meme, video pendek, dan podcast, membuatnya terasa dekat dan modern.
Made Setiawan, seorang tetua adat sekaligus tokoh spiritual dari Muding Buit, Badung Bali, menilai perubahan ini sebagai “angin segar bagi warisan budaya Bali.” Dalam wawancara dengan Radar BIONS News, ia menegaskan, “Bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jiwa yang menuntun cara berpikir dan berperilaku. Ketika anak muda mulai menulis puisi atau membuat konten digital berbahasa Bali, itu berarti mereka sedang menanamkan kembali akar identitasnya di tanah modern.” Ia juga mengingatkan pentingnya spiritualitas dalam setiap inovasi. “Teknologi boleh modern, tapi bahasa harus tetap punya roh. Kalau roh itu dijaga, budaya Bali tidak akan pernah punah,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Meski tantangan besar masih ada seperti dominasi bahasa asing di media sosial dan menurunnya minat baca aksara Bali semangat kolaborasi terus tumbuh. Para pendidik, komunitas kreatif, dan tokoh adat bersinergi menciptakan berbagai proyek digital berbasis budaya. Tujuannya satu: menjadikan Bahasa dan Sastra Bali bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bahasa masa depan yang hidup, spiritual, dan membanggakan bagi setiap anak muda di Pulau Dewata.











