UEA Kritik Wahhabisme, Ketegangan dengan Arab Saudi Semakin Terbuka

  • Share
Foto: Le Monde

RBN || Abu Dhabi

Ketegangan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi kembali memanas setelah seorang penasihat senior Presiden UEA, Abdulkhaleq Abdulla, melontarkan kritik tajam terhadap Wahhabisme, doktrin keagamaan yang secara historis terkait erat dengan Arab Saudi.

Abdulkhaleq Abdulla, yang dikenal sebagai akademisi dan tokoh berpengaruh di Emirat, menyampaikan kritik tersebut melalui unggahan di media sosial X. Ia menilai Wahhabisme kini kembali muncul dan dianggap berpotensi mengancam pendekatan moderat yang selama ini dipromosikan UEA.

Dalam pernyataannya, Abdulla menyebut bahwa narasi yang berkembang di media sosial dan media tertentu dinilai memberi ruang bagi ideologi ekstremisme dan memperkuat narasi yang bertentangan dengan nilai toleransi dan moderasi.

Pernyataan ini menjadi salah satu kritik publik paling terbuka dari tokoh UEA terhadap arus keagamaan utama Arab Saudi. Pengamat menilai kritik tersebut mencerminkan perbedaan pendekatan ideologis antara kedua negara Teluk yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu dekat.

UEA selama ini mempromosikan model Islam yang lebih moderat dan pluralistik, dengan pengelolaan keagamaan yang terpusat melalui lembaga resmi negara. Sebagian besar umat Muslim di UEA mengikuti mazhab Maliki dalam hukum Sunni. Sebaliknya, Arab Saudi secara historis memiliki hubungan erat dengan Wahhabisme, yang berakar pada mazhab Hanbali dan telah menjadi bagian penting dari legitimasi keagamaan kerajaan sejak abad ke-18.

Meski Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah melakukan berbagai reformasi untuk mengurangi pengaruh lembaga keagamaan dan mendorong modernisasi, Wahhabisme tetap memiliki nilai simbolis dalam identitas negara tersebut.

Ketegangan antara kedua negara juga terlihat dalam meningkatnya konfrontasi di media. Sebuah media yang terkait dengan Arab Saudi bahkan menerbitkan kartun yang menggambarkan posisi UEA dalam sejumlah konflik regional, termasuk di Yaman, Somalia, dan Aljazair. Langkah ini dinilai sebagai bentuk sindiran politik yang memperjelas perbedaan pandangan kedua negara.

Perbedaan strategi di Yaman menjadi salah satu sumber utama perselisihan. UEA diketahui mendukung Dewan Transisi Selatan (STC), sementara Arab Saudi memiliki pendekatan politik dan keamanan yang berbeda di wilayah tersebut. Persaingan ini juga mencerminkan perebutan pengaruh yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, termasuk dalam bidang ekonomi dan geopolitik.

Meski hubungan diplomatik belum terputus, laporan menyebutkan komunikasi tingkat tinggi antara Riyadh dan Abu Dhabi belum terjadi sejak akhir Desember lalu. Situasi ini menunjukkan hubungan kedua negara yang sebelumnya solid kini menghadapi tantangan serius.

Sumber: SindoNews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *