RBN || Jakarta
Di tengah percepatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) yang mengubah hampir seluruh lanskap industri, perempuan profesional Indonesia bergerak memasuki panggung baru. Dunia bisnis kini tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga kepemimpinan adaptif, empatik, dan visioner. Pada titik inilah peran pemimpin perempuan menjadi semakin strategis dalam menentukan arah transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Presiden Business Professional Women (BPW) Indonesia, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, menegaskan bahwa perempuan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam gelombang AI.
“Perempuan harus hadir sebagai aktor strategis yang bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga memastikan bahwa transformasi digital tetap berpihak pada nilai kemanusiaan,*” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Menurutnya, kepemimpinan perempuan berpotensi menjadi penyeimbang di tengah perubahan teknologi yang kerap berorientasi pada efisiensi, tetapi melupakan aspek etika dan keberlanjutan.
Dalam dunia bisnis, perempuan profesional terbukti mampu menghadirkan perspektif berbeda dalam pengambilan keputusan. Mereka cenderung mempertimbangkan dampak sosial, keberlanjutan jangka panjang, serta memprioritaskan kolaborasi. Ketika AI mulai menguasai proses produksi, pemasaran, hingga manajemen sumber daya manusia, sensitivitas perempuan terhadap nilai-nilai tersebut menjadi modal penting untuk menjaga agar teknologi tetap menjadi alat pemberdayaan, bukan ancaman.
Dr. Giwo menekankan bahwa BPW Indonesia telah menjangkau ribuan perempuan di berbagai wilayah untuk memperkuat literasi digital dan kesiapan mereka menghadapi era AI.
“Kami ingin memastikan perempuan tidak tertinggal. Transformasi digital harus dimasuki dengan percaya diri, kemampuan yang relevan, dan pemahaman etis yang kuat,” tambahnya.
Kepemimpinan perempuan di era AI bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata. Dengan terus memperkuat kapasitas profesional, menguasai teknologi baru, dan menjaga integritas dalam kepemimpinan, perempuan Indonesia dapat menjadi penentu arah transformasi digital yang lebih inklusif, manusiawi, dan berkeadilan. Dunia bisnis membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan yang berani melangkah, berpikir strategis, dan memandu perubahan dengan hati.











