RBN || Jakarta
Tumor otak menjadi salah satu penyakit serius yang memerlukan penanganan cepat karena dapat terus berkembang dan menekan jaringan, saraf, maupun pembuluh darah di sekitarnya. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu berbagai fungsi penting otak jika tidak segera ditangani.
Meski operasi masih menjadi metode utama dalam pengobatan tumor otak, banyak pasien yang merasa khawatir menjalani tindakan bedah karena takut mengalami komplikasi, termasuk kelumpuhan.
Dokter spesialis bedah saraf, dr. Mardjono Tjahjadi Sp.B.S Subsp N-Vas F.K-Onk atau yang akrab disapa dr. Joy, menjelaskan bahwa operasi tumor otak memang membutuhkan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.
“Margin of error dari operasi tumor otak hanya satu milimeter. Jika ada area yang mengalami kerusakan saat operasi, pasien beresiko mengalami gangguan neurologis permanen, termasuk lumpuh. Makanya banyak orang takut dioperasi,” kata dr. Joy.
Menurutnya, otak merupakan organ yang sangat kompleks dengan miliaran sel saraf yang saling terhubung. Karena itu, dokter harus memastikan area-area penting yang mengatur berbagai fungsi tubuh tetap terlindungi selama prosedur berlangsung.
“Makanya dokter bedah saraf saat mengoperasi harus memastikan area-area penting di otak itu tidak terganggu,” ujarnya.
Meski teknologi medis telah berkembang dengan menghadirkan metode nonbedah seperti gamma knife dan radioterapi, dr. Joy menegaskan bahwa operasi masih menjadi standar utama dalam penanganan tumor otak.
“Tetapi porsinya sedikit sekali, lagi pula tidak bisa asal disinar kalau belum diketahui itu jinak atau ganas. Golden standar pengobatan tumor otak tetap dioperasi,” jelasnya.
Selain mengangkat tumor, operasi juga bertujuan mengambil sampel jaringan untuk mengetahui apakah tumor bersifat jinak atau ganas sehingga dokter dapat menentukan langkah pengobatan selanjutnya secara lebih tepat.
Dr. Joy menambahkan, perkembangan teknologi kini membuat operasi tumor otak semakin aman dan efektif. Salah satu inovasi yang mulai banyak diterapkan adalah metode awake brain surgery atau operasi otak saat pasien tetap sadar.
Metode ini memungkinkan pasien tetap dapat berinteraksi dengan tim medis selama prosedur berlangsung, terutama ketika tumor berada di area otak yang mengatur fungsi penting seperti gerak tubuh, bicara, sensorik, penglihatan, dan pemahaman.
“Tindakan ini bisa dilakukan untuk mengangkat tumor di lima area otak yang sensitif, yaitu area yang mengontrol fungsi gerak, bicara, sensorik, penglihatan, dan pemahaman,” papar dr. Joy.
Dalam prosedur tersebut, pasien diberikan anestesi lokal pada area kepala sehingga tidak merasakan nyeri meskipun tetap dalam kondisi sadar.
Menurut dr. Joy, teknik ini membantu dokter memantau fungsi-fungsi penting otak secara langsung selama operasi berlangsung, sehingga risiko gangguan neurologis pascaoperasi dapat ditekan seminimal mungkin.
Selain meningkatkan keamanan tindakan, metode awake brain surgery juga dinilai memberikan proses pemulihan yang lebih cepat. Banyak pasien mampu kembali menjalani aktivitas dengan kualitas hidup yang tetap terjaga setelah menjalani operasi tersebut.
Sumber: Kompas.com











