Sering Main Ponsel Sambil Rebahan? Waspadai Ancaman Tech Neck yang Mengintai Kesehatan Leher

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Freepik)

RBN || Jakarta

Menonton video atau bermain ponsel sambil rebahan telah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama setelah menjalani aktivitas seharian. Meski terasa nyaman dan menghibur, kebiasaan ini ternyata dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius yang sering kali tidak disadari sejak awal.

Salah satu dampak yang kini banyak mendapat perhatian di dunia medis adalah tech neck atau sindrom nyeri leher akibat penggunaan perangkat digital dalam posisi tubuh yang tidak ideal.

Kondisi ini terjadi ketika leher dan tulang belakang bagian atas menerima tekanan berlebih karena kepala terlalu lama berada dalam posisi menunduk atau miring saat menatap layar ponsel, tablet, maupun perangkat elektronik lainnya.

Saat seseorang berbaring sambil menopang kepala untuk melihat layar ponsel, otot leher dipaksa bekerja lebih keras dibandingkan posisi tubuh normal. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi memicu nyeri kronis, kekakuan otot, hingga perubahan bentuk tulang belakang yang memerlukan penanganan jangka panjang.

Tech neck, yang juga dikenal sebagai text neck, cell phone neck, gamer neck, atau turtle neck syndrome, merupakan gangguan yang muncul akibat tekanan berulang pada leher karena postur tubuh yang buruk saat menggunakan perangkat teknologi.

Kondisi ini umumnya dialami oleh mereka yang sering menundukkan kepala untuk membaca, mengetik, menggulir layar, atau menonton video dalam waktu lama.

Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Crystal Run Healthcare, Sangjin Lim, menjelaskan bahwa posisi kepala sangat berpengaruh terhadap beban yang harus ditanggung otot leher.

“Saat kepala berada dalam posisi tegak dan netral, otot-otot leher hanya perlu menanggung beban sekira empat hingga lima kilogram,” ujarnya.

Namun, menurut Sangjin Lim, kondisi tersebut berubah drastis ketika kepala mulai menunduk ke arah layar.

“Namun begitu kepala mulai menunduk untuk menatap layar, beban yang harus ditanggung leher bisa melonjak hingga sekira 27 kilogram, hampir enam kali lipat dari kondisi normal.”

Tekanan berlebih tersebut membuat otot, tendon, dan ligamen di sekitar leher bekerja jauh di atas kapasitas normalnya. Semakin lama posisi itu dipertahankan, semakin besar pula risiko gangguan yang dapat muncul.

Fenomena tech neck kini tidak hanya dialami pekerja kantoran atau orang dewasa yang banyak beraktivitas di depan komputer. Anak-anak dan remaja juga mulai rentan mengalami kondisi serupa karena tingginya intensitas penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.

Gejala yang paling sering muncul antara lain sakit kepala akibat ketegangan otot leher dan kelelahan mata setelah terlalu lama menatap layar. Selain itu, nyeri pada punggung bagian atas juga kerap dirasakan karena otot trapezius yang menghubungkan leher, bahu, dan punggung harus menanggung beban berlebih secara terus-menerus.

Dampak lainnya adalah perubahan postur tubuh. Bahu yang terus berada dalam posisi membungkuk ke depan dapat menyebabkan kelemahan otot dan menurunkan fleksibilitas tubuh dalam jangka panjang.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk membatasi penggunaan ponsel dalam posisi rebahan, menjaga posisi kepala tetap sejajar dengan tubuh saat menggunakan perangkat digital, serta rutin melakukan peregangan guna mengurangi risiko terjadinya tech neck. Dengan kebiasaan yang lebih sehat, gangguan pada leher dan tulang belakang dapat dicegah sejak dini.

Sumber: Tribunnews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *