RBN || Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Eropa. Dalam wawancara eksklusif dengan Politico, Trump menyebut para pemimpin Eropa sebagai pihak yang “lemah” dan menilai dukungan AS untuk Ukraina bisa dikurangi jika sekutu Eropa tidak menunjukkan komitmen lebih kuat.
Trump menuduh negara-negara Eropa “membiarkan Ukraina bertarung hingga tumbang” dan gagal mengambil langkah tegas untuk mengakhiri perang dengan Rusia sejak invasi besar-besaran pada Februari 2022.
“Mereka hanya bicara, tetapi tidak memberikan hasil. Sementara perang terus berlanjut tanpa henti,” kata Trump seperti dikutip Politico, Selasa (9/12).
Menanggapi tudingan Trump, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menilai Eropa justru menunjukkan ketegasan melalui peningkatan anggaran pertahanan dan dukungan finansial kepada Kyiv.
“Saya hanya melihat kekuatan di Eropa,” ujar Cooper.
Ia menilai bahwa Zelensky dan Trump tengah berupaya mencari jalan damai, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin “hanya terus meningkatkan agresinya”.
Trump kembali menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar menyetujui kesepakatan damai dengan memberikan sebagian wilayah kepada Rusia. Ia bahkan menyebut Zelensky sebagai hambatan utama bagi perdamaian.
Trump mengatakan Rusia “baik-baik saja” dengan proposal perdamaian yang disusun AS, namun Ukraina keberatan karena dinilai berpotensi membuat negara itu kembali rentan di masa depan.
Zelensky menanggapi melalui media sosial X bahwa Ukraina dan Eropa kini tengah menyempurnakan rencana langkah menuju akhir perang dan akan menyerahkannya kepada AS.
Trump turut menuding Kyiv menghambat demokrasi dengan tidak menggelar pemilu. Padahal, Ukraina menunda pemilu karena status darurat militer sejak invasi Rusia.
Zelensky menilai pemilu bisa digelar dalam 60–90 hari apabila situasi keamanan terjamin dengan bantuan negara sekutu.
Selain mengkritik dukungan Eropa terhadap Ukraina, Trump juga mengecam kebijakan migrasi benua tersebut yang dinilainya sebagai “bencana”.
Ia menyebut mayoritas negara Eropa kini tengah “membusuk”, kecuali Hungaria dan Polandia yang dinilai sukses membatasi imigrasi.
Komentarnya muncul setelah pemerintah AS merilis Strategi Keamanan Nasional terbaru. Dokumen tersebut menyinggung potensi “penghapusan peradaban Eropa” serta mempertanyakan keandalan beberapa negara Eropa sebagai sekutu.
Rusia menyambut baik strategi tersebut karena tidak menempatkan Moskow sebagai ancaman utama bagi AS.
Kanselir Jerman Friedrich Merz merespons tegas dokumen itu. Ia menilai sebagian isinya dapat diterima, namun “tidak dapat dibenarkan jika AS menganggap dirinya perlu menyelamatkan demokrasi Eropa”.
Upaya negosiasi AS dengan Ukraina dan Rusia dalam beberapa pekan terakhir belum membuahkan hasil. Kyiv khawatir Washington akan memaksa kesepakatan yang merugikan. Sementara Eropa ingin memastikan kepentingan jangka panjang kawasan tetap terlindungi.
Sementara itu, perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sumber: BBC











