Remaja SMAN 1 Tambun Selatan, Bekasi: Menilik Prestasi, Popularitas, dan Kepercayaan diri semu

  • Share
ilustrasi
ilustrasi

RBN || Jakarta

Salah satu hal terpenting yang diasosiasikan dengan siswa SMA adalah popularitas dan kesuksesan. Hal-hal tersebut merupakan tanda keberhasilan, rasa hormat, dan identitas diri. Piala, “like” di media sosial, dan prestasi menunjukkan persaingan sosial yang tidak sederhana. Fenomena ini nyata terasa di SMAN 1 Tambun Selatan, Bekasi, sekolah dengan rekam jejak prestasi gemilang sekaligus tantangan kesehatan mental remaja yang terus berkembang.

Secara kasat mata, tingkat prestasi akademik dan non-akademik di sekolah ini sangat tinggi dan menjadi kebanggaan bersama. Sekolah ini meraih juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Kabupaten Bekasi dan juara pertama dalam prestasi non-akademik nasional. Deretan capaian ini tak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga membentuk persepsi bahwa prestasi adalah penanda kualitas dan “kelas” seorang siswa.

Menurut Ika Sartika, seorang Guru Bimbingan dan Konseling, kesuksesan sejati dihasilkan dari proses kerja keras dan konsistensi pribadi. Menurutnya, siswa biasanya menganggap prestasi sebagai bukti kompetensi dan pengakuan pribadi, serta nilai diri. Prestasi akan membangkitkan motivasi pada individu dengan rasa percaya diri dan disiplin. Namun masalah muncul ketika prestasi bergeser menjadi satu-satunya sumber validasi diri.

Pada titik inilah popularitas dianggap sama pentingnya dengan keberhasilan akademis bagi siswa remaja. Popularitas memberi siswa perasaan memiliki tempat di sekolah mereka dan nama baik yang mereka wakili. Platform media sosial meningkatkan bobot prestasi siswa dengan meningkatkan kecepatan berbagi dan jangkauan. Tindakan siswa, presentasi diri mereka, dan tingkat perhatian yang mereka dapatkan secara diam-diam menentukan tingkat visibilitas siswa. Siswa terpapar tekanan psikologis yang meningkat ketika mereka terjebak di antara dorongan untuk mencapai keberhasilan akademis dan meraih popularitas.

Ika Sartika mengamati adanya pola perilaku siswa yang sangat bergantung pada perhatian lingkungan. Mereka menunjukkan kebutuhan kuat untuk selalu menjadi pusat perhatian, bersikap sangat emosional, impulsif, dan gelisah ketika sorotan beralih ke orang lain. “Ada yang terlihat sangat lincah dan bersemangat, tapi menjadi tidak nyaman saat tidak diperhatikan. Emosinya cepat berubah, bicaranya provokatif, bahkan kadang menampilkan drama seolah dirinya tersakiti atau dibully,” jelasnya.

Dalam konteks psikologi, pola tersebut kerap dikaitkan dengan kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Gangguan ini ditandai dengan kebutuhan berlebihan akan pengakuan, perasaan diri yang terlalu istimewa, serta rendahnya empati terhadap orang lain. Pada remaja, gejalanya jarang muncul dalam bentuk ekstrem, tetapi lebih sebagai kecenderungan perilaku: terus mencari perhatian, mudah terpengaruh lingkungan, dan sulit menerima kritik. Bahkan, dalam beberapa kasus, ekspresi emosional yang berlebihan bisa dimaknai secara dramatis, mulai dari merasa selalu menjadi korban hingga menunjukkan reaksi yang tidak proporsional.

Gejala khas gangguan ini meliputi keinginan berlebihan untuk mendapatkan apresiasi, rasa superioritas, dan kurangnya rasa welas asih. Gejala gangguan ini pada remaja tidak terlalu intens, tetapi terdapat kecenderungan perilaku seperti selalu tertarik pada lingkungan sekitar dan kesulitan menerima kritik. Terkadang, intensitas ekspresi emosional dapat menyebabkan perilaku dramatis yang melibatkan perilaku merasa menjadi korban dan bereaksi berlebihan. Pola perilaku ini harus dievaluasi dalam konteks informasi yang tersedia. Tingkat ekspresi dan popularitas yang tinggi serta sifat ambisius siswa tidak selalu berarti mereka memiliki gangguan kepribadian.

Kaum muda menjalani proses pembentukan identitas alami yang melibatkan pengalaman perasaan yang intens. Ketika perilaku mencari perhatian menjadi pola yang teratur yang memengaruhi hubungan, dan proses pendidikan berisiko, maka diperlukan implementasi sistem pendukung segera. Garis pertahanan pertama sekolah adalah menangani kasus-kasus seperti itu. Guru dan konselor bertanggung jawab atas dukungan akademik dan promosi kesehatan mental.

Keberhasilan membutuhkan keseimbangan yang tepat antara pengakuan keberhasilan dan promosi empati serta refleksi diri, dan pengajaran pengendalian emosi. Lembaga pendidikan yang baik adalah lembaga yang melatih siswa untuk mencapai hasil tanpa mengorbankan pengembangan kemampuan sosial melalui karakter siswa.

SMAN 1 Tambun Selatan, Bekasi, sebagai sekolah di kawasan urban penyangga Jakarta, yang menunjukkan bagaimana pendidikan menghadapi hambatan kontemporer. Remaja mengalami stres terkait prestasi yang memaksa mereka untuk mempertahankan citra sukses. Lingkungan pendidikan modern membutuhkan program literasi kesehatan mental yang sesuai dengan inisiatif pembelajaran akademik. Siswa perlu menghadapi kegagalan dan tingkat stres serta pengalaman emosional mereka melalui diskusi terbuka karena harga diri mereka bergantung pada lebih dari sekadar pengakuan eksternal.

Pada akhirnya, prestasi dan popularitas bukanlah ancaman. Keduanya dapat menjadi modal besar jika dikelola secara bijak. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa pencapaian tidak melahirkan narsisme, dan pengakuan tidak mengikis empati. Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan siswa, potret psikologis remaja dapat diarahkan pada pribadi yang berprestasi, berkarakter, dan sehat secara mental unggul bukan hanya di permukaan, tetapi juga kuat di dalam diri.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *