RBN || Ukraina (BBC News)
Kepala Komisi Eksekutif Uni Eropa, Ursula von der Leyen, telah menyampaikan kemarahan atas serangan mematikan Rusia di Kyiv sejak Juli, yang juga merusak kantor delegasi Uni Eropa di ibu kota Ukraina.
Setidaknya 21 orang, termasuk empat anak-anak, tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan tersebut, kata pejabat Ukraina.
Sebuah bangunan tempat tinggal lima lantai hancur, dan markas Uni Eropa serta British Council yang berada didekatnya rusak.
Von der Leyen mengatakan bahwa rudal rusia menyerang di dekat markas diplomatik, “dua rudal menghantam delegasi dalam jarak 50m (165 kaki) dalam waktu 20 detik.”
Pasukan Ukraina mengatakan Rusia telah menembakkan hampir 600 pesawat tanpa awak dan lebih dari 30 rudal balistik dan jelajah, menjadi serangan terbesar di ibu kota pada bulan ini.
Korban tewas berada di bangunan tempat tinggal lima lantai di distrik Darnytskyi, sebelah tenggara Kyiv. Sebuah rudal menghancurkan apartemen sekitar pukul 03.00.
Para penggali terlihat menyingkirkan puing-puing, dan petugas penyelamat memanjat ke atas bangunan yang berasap untuk mencari korban selamat.
Pejabat Ukraina mengatakan tiga anak yang tewas berusia 2, 14, dan 17 tahun. Sementara beberapa anak lainnya terluka.
Serangan semalam itu menyusul serangan diplomatic yang dipimpin AS yang bertujuan untuk mengakhiri perang, dan membuat marah Inggris serta Uni Eropa.
Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menuduh Vladimir Putin dari Rusia “menyabotase harapan perdamaian”, sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan mereka menunjukkan “pilihan yang disengaja untuk meningkatkan dan mengejek upaya perdamaian”.
Moskow telah memilih “balistik, alih-alih meja perundingan”, kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menegaskan kembali perlunya “sanksi baru yang keras” terhadap Rusia.
Meskipun Kremlin mengatakan Rusia masih tertarik pada negosiasi, von der Leyen mengatakan serangan itu merupakan pengingat lainnya bahwa Rusia tidak akan berhenti meneror Ukraina.
Utusan khusus AS untuk Ukraina, Keith Kellog, mengatakan serangan mengerikan Rusia terhadap wilayah pemukiman mengancam perdamaian yang sedang diupayakan Presiden Donald Trump.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengatakan Rusia telah menunjukkan wajah aslinya, dan fakta bahwa delegasi Uni Eropa menjadi sasaran penyerangan menjadi indikasi meningkatnya keberanian Kremlin.
Serangan rudal terjadi setelah lebih dari 100.000 rumah di Ukraina kehilangan aliran listrik akibat serangan pesawat nirawak Rusia terhadap infrastruktur energi pada Rabu. Sebanyak 60.000 penduduk kehilangan aliran listrik di wilayah Vinnytsia Tengah akibat serangan terbaru.
Pasukan Rusia juga menyerang sebuah kapal angkatan laut Ukraina, menewaskan satu awak kapal dan lainnya terluka. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menggunakan speedboat tanpa awak untuk menyerang kapal pengintai Simferopol di muara Sungai Donau, meskipun militer Ukraina tidak memberikan detail lokasi serangan tersebut.
British Council, yang membina hubungan budaya dengan negara lain dan bertempat di blok yang sama dengan markas Uni Eropa, mengatakan kantornya rusak parah dan akan ditutup untuk pengunjung sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa sedang mempersiapkan sanksi ke-19 terhadap Rusia dan mengumumkan ia akan mengunjungi tujuh negara anggota Uni Eropa yang berbatasan dengan Rusia dan sekutunya selama beberapa hari ke depan.
Presiden Trump berharap untuk menyelenggarakan pertemuan dengan Zelensky dan Vladimir Putin untuk mengakhiri perang, tetapi upaya tersebut telah berhenti.
Ukraina sedang bekerja sama dengan sekutu-sekutunya di Eropa untuk mendapatkan jaminan guna mencegah serangan Rusia di masa mendatang jika tercapai kesepakatan damai. Zelensky telah berunding di Kyiv minggu ini dengan Kepala Angkatan Bersenjata Inggris, Laksamana Sir Tony Radakin.











