Kondisi Korban Gempa Bumi di Afghanistan Memprihatinkan

  • Share

RBN || Afganistan (BBC) 

Para penyintas gempa bumi yang menewaskan lebih dari 800 orang dan melukai ribuan lainnya di Afghanistan Timur telah menghabiskan malam di tempat terbuka, sementara upaya penyelamatan terus berlanjut.

Sebagian besar korban tewas berada di Provinsi Kunar yang merupakan wilayah pegunungan, terdekat dengan pusat gempa berkekuatan 6,0 skala richter yang terjadi pada Minggu malam. Para pejabat memperingatkan bahwa korban tewas kemungkinan bertambah karena seluruh desa hancur.

Beberapa negara telah mengirimkan bantuan, sementara akses ke beberapa desa dan fasilitas kesehatan terputus.

Bencana ini terjadi saat Afghanistan dilanda kekeringan dan krisis kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gempa bumi terjadi pukul 23:47 waktu setempat pada Minggu, sekitar 27 km timur Jalalabad – kota terbesar kelima di Afghanistan, di Provinsi Nangarhar Timur.

Salah satu korban, Faridullah Fazli, sedang tertidur lelap di rumahnya di Asadabad, tepi Sungai Kunar, ketika gempa mengguncang wilayah tersebut.

“Terjadi gempa bumi yang sangat kuat, disertai suara-suara yang menakutkan,” ujar Fazli.

“Kami tidak tidur sampai pagi. Setelah gempa, ada getaran kecil, dan masih ada.”

Fazli mengatakan bahwa ia pergi ke klinik di kota, membantu mengangkut korban tewas dan terluka ke ambulans untuk dibawa ke rumah sakit di selatan Provinsi Nangarhar.

“Suasananya sangat menakutkan, hanya suasana ketakutan dan terror,” ujarnya.

Seorang penduduk Mazar Dara, di wilayah Nurgal, mengatakan 95% desa hancur – dengan lima hingga 10 orang terluka di setiap rumah tangga.

Kunar – wilayah pegunungan terjal dengan lahan pertanian terbatas – menerima dampak terparah. Jalan-jalan di wilayah tersebut seringkali berupa jalur lumpur yang berkelok-kelok di sekitar pegunungan, sementara rumah-rumah terbuat dari tanah liat, batu, dan lumpur.

Wilayah ini juga mengalami banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa hari terakhir, yang menghalangi akses ke banyak area.

Karena jalan terblokir, operasi penyelamatan dilakukan melalui udara, sementara tim dengan helicopter baru bisa mencapai daerah terdampak pada Senin pagi.

“Seluruh desa rata dengan tanah, jalan menuju daerah pegunungan masih tertutup. Jadi sekarang, bagi kami, prioritas bukan menemukan korban tewas dibawah reruntuhan, melainkan menjangkau mereka yang terluka,” kata pejabat Taliban di Provinsi Kunar.

Penduduk desa saling membantu mencari korban tewas dan terluka diantara bangunan yang rata dengan tanah.

Joy Singhal, juru bicara Palang Merah regional, mengatakan bahwa para penyintas takut memasuki rumah mereka karena khawatir akan terjadi gempa susulan, dan mengatakan bahwa jumlah tenda pengungsian di wilayah tersebut tidak cukup.

Seorang korban mengatakan bahwa ia telah kehilangan anggota keluarganya dalam gempa tersebut, sementara seorang korban lainnya tampak linglung dan kehilangan arah.

Dokter mengatakan sekitar 460 korban telah dibawa ke Rumah Sakit Jalalabad sejak gempa bumi terjadi dengan 250 orang dirawat intensif, dan lainnya telah diperbolehkan pulang.

Konektivitas internet di area tersebut sangat terbatas, membuat komunikasi dan koordinasi menjadi sulit.

Sejak Agustus 2021, Afghanistan berada di bawah kendali Taliban, yang pemerintahannya hanya diakui oleh Rusia.

Beberapa lembaga bantuan dan organisasi non-pemerintah menghentikan aktivitas mereka di Afghanistan ketika kelompok Islam garis keras kembali berkuasa.

Sebagian sumbangan asing ke Afghanistan telah ditangguhkan dan sanksi internasional yang berlaku sejak Taliban pertama kali berkuasa pada tahun 1990-an, masih berlaku, meskipun terdapat pengecualian untuk bantuan kemanusiaan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *