RBN || Jakarta
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka peluang besar bagi investor swasta untuk terlibat dalam pengembangan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Langkah strategis ini menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional pada 2027 sekaligus memperkuat fondasi hilirisasi industri berbasis sumber daya kelautan.
Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yorhanita, mengungkapkan bahwa kawasan K-SIGN di Kabupaten Rote Ndao dirancang dengan luas total mencapai 12.597,69 hektare. Dari total tersebut, pemerintah menawarkan sekitar 10.673,15 hektare kepada investor untuk dikembangkan secara kolaboratif.
Menurut Frista, keterlibatan swasta menjadi keniscayaan mengingat keterbatasan kemampuan pembiayaan negara. Dalam perencanaan kawasan yang terbagi ke dalam 10 zona, pemerintah melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saat ini hanya mampu menggarap dua zona.
“Pengembangan kawasan industri Rote tidak mungkin sepenuhnya dilakukan pemerintah. Kemampuan APBN kami paling hanya bisa di dua zona. Delapan zona lainnya harus dilakukan oleh investor,” ujarnya dalam talkshow Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri di kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Dua zona yang akan dikelola langsung oleh pemerintah mencakup zona 1 seluas 1.025 hektare dan zona 2 seluas 889,54 hektare. Sementara delapan zona sisanya dengan luas lebih dari 10 ribu hektare dibuka bagi partisipasi sektor swasta, termasuk industri pengguna garam seperti sektor makanan dan minuman.
Frista menegaskan, skema ini bukan sekadar pembagian lahan, melainkan transformasi model industri garam nasional. Selama ini, industri pengguna cenderung hanya berperan sebagai konsumen. Melalui pola kemitraan baru ini, mereka diharapkan ikut berinvestasi dan berkontribusi dalam rantai pasok, bahkan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku secara mandiri.
“Kami ingin industri pengguna tidak hanya memakai, tetapi juga berkontribusi dalam produksi. Dengan begitu, kebutuhan mereka bisa terpenuhi secara berkelanjutan dan lebih efisien,” jelasnya.
Pemilihan Rote Ndao sebagai lokasi pengembangan bukan tanpa alasan. Wilayah paling selatan Indonesia ini dinilai memiliki keunggulan komparatif dari sisi iklim dan kondisi lingkungan. Produksi garam sangat bergantung pada intensitas sinar matahari dan curah hujan yang rendah. Rote Ndao dinilai memiliki karakteristik cuaca yang stabil serta kualitas udara perairan yang mendukung produksi garam berkualitas tinggi.
KKP menargetkan produktivitas sebesar 200 ton per hektare per tahun. Jika seluruh kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare dikembangkan optimal, potensi produksi dapat mencapai 400 ribu ton garam per tahun. Angka tersebut dinilai signifikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat daya saing industri nasional
Langkah hilirisasi ini juga mendapat respons dari kalangan industri. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyambut baik upaya pemerintah dalam melakukan ekstensifikasi tambak garam. Namun ia menyoroti aspek logistik sebagai tantangan utama dalam industri garam nasional.
Menurutnya, efisiensi distribusi menjadi faktor krusial dalam menentukan daya saing industri makanan dan minuman. Oleh karena itu, ia berharap agar pengembangan industri pengolahan garam dapat dilakukan berdekatan dengan sentra industri pengguna.
“Kami berharap industri pengolahan garam bisa dibangun di dekat industri pengguna. Ini penting agar biaya logistik menjadi lebih murah dan daya saing industri makanan dan minuman meningkat,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam proyek K-SIGN Rote Ndao menjadi cerminan paradigma baru pembangunan sektor kelautan. Tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada integrasi hulu-hilir dan penguatan ekosistem industri.
Jika terealisasi sesuai rencana, kawasan industri garam di Rote Ndao berpotensi menjadi model nasional pengembangan komoditas strategis berbasis wilayah. Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, K-SIGN diharapkan menjadi simbol kebangkitan industri garam Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Sumber: CNN Indonesia











