RBN || Jakarta
Tahun 2025 menjadi titik terendah dalam hidupku. Seperti gelap yang menyelimuti segala arah, aku merasa begitu sendirian, tanpa satu pun tangan yang menggenggam, tanpa pelukan yang menenangkan, dan tanpa tempat untuk bersandar. Semua terasa begitu sepi dan tak pasti. Di tengah dunia yang seakan bergerak begitu cepat, aku harus bertahan dengan setiap langkah yang kutapaki sendirian. Tidak ada yang bisa aku andalkan, dan itu adalah pelajaran hidup yang memberiku makna sejati tentang kekuatan.
Ketika menghadapi kesendirian yang mencekam, keinginan untuk menyerah datang begitu kuat. Pikiran untuk berhenti dan meninggalkan segala sesuatu yang membuatku terjatuh muncul setiap saat. Namun, kenyataan itu tidak memberikan ruang untuk mundur. Dalam keheningan itu, aku belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi bagaimana kita bisa menerima kehidupan dalam kesendirian, ketika dunia terlihat tidak peduli.
Memasuki tahun 2026, aku memilih untuk lebih diam dan menyimpan banyak hal dalam diriku. Keputusan ini bukanlah karena aku tidak membutuhkan orang lain atau karena aku mengabaikan dunia. Ini adalah buah dari perjalanan panjang yang mengajarkanku bahwa terkadang, kita harus mampu berdiri sendiri. Kesendirian bukanlah kutukan, melainkan pilihan yang mendewasakan. Dalam diam, aku menemukan kekuatan untuk lebih mengenal diri, untuk memahami apa yang aku butuhkan, dan untuk belajar bagaimana menjadi lebih kuat tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain.
Fenomena ini, yang sering kali muncul sebagai sikap diam dan kemandirian ekstrem, dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah hyper-independence atau kemandirian hiper. Sikap ini tidak muncul karena seseorang menolak interaksi sosial, tetapi lebih sebagai respon terhadap pengalaman traumatis yang dialami di masa lalu. Ketika seseorang merasa tidak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan di saat krisis, mereka cenderung membangun dinding emosional sebagai cara untuk melindungi diri. Perlindungan ini adalah upaya agar mereka tidak merasa rentan lagi, tidak terperangkap dalam rasa sakit akibat ekspektasi yang tidak pernah terpenuhi.
Dr. John Cacioppo, seorang ahli psikologi sosial terkemuka, mengungkapkan bahwa kesendirian bisa mengubah pandangan seseorang terhadap dunia. Meski begitu, Cacioppo juga menekankan bahwa kesendirian memberikan ruang bagi pemulihan. Proses ini memperkuat kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan hidup secara lebih mandiri. Ketangguhan yang aku tunjukkan hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh dengan rasa sakit dan penderitaan, yang mengajarkan aku untuk menjadi pahlawan bagi diriku sendiri ketika dunia tidak berpihak.
Namun, seiring perjalanan ini, aku menyadari bahwa proses penyembuhan sejati tidak datang dari menutup diri sepenuhnya. Dr. Bessel van der Kolk, pakar trauma, menjelaskan bahwa meskipun seseorang yang mengalami isolasi emosional membangun dinding untuk melindungi diri, kesembuhan yang sejati terjadi ketika mereka mulai menerima kenyataan bahwa tidak semua beban harus dipikul sendirian. Meskipun kesendirian mengajarkanku ketangguhan, aku akhirnya memahami bahwa membuka diri kepada orang lain, dan berbagi beban, bukanlah tanda kelemahan melainkan kekuatan baru yang memberi ruang untuk sembuh dan berkembang.
Ada kalanya, ketika aku merasakan beratnya dunia, aku memilih untuk menepi sejenak dari keramaian. Seperti yang aku katakan kepada teman-teman terdekat, “Lagi masa-masanya pengen lebih banyak waktu buat diri sendiri nih. Bukan karena ada masalah sama siapa-siapa, cuma lagi menikmati ‘quiet mode’ supaya bisa lebih fokus dan kuat. Kabari ya kalau ada hal penting, tapi kalau aku agak lambat merespons, itu karena aku lagi butuh ruang.” Kalimat itu mencerminkan pilihan untuk memberi ruang bagi diri sendiri, untuk berfokus pada pemulihan dan introspeksi tanpa tekanan dari luar.
Tahun 2026 adalah simbol dari pemulihan dan pemahaman baru: bahwa kita tidak harus selalu berjalan sendirian. Dalam kesendirian, aku menemukan kekuatan untuk bertahan. Namun, dalam keberanian untuk membuka hati kepada orang lain, aku menemukan bahwa menjadi lebih kuat bersama jauh lebih berarti. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa tidak ada yang salah dengan mencari dukungan dan berbagi perjalanan hidup dengan orang lain, karena sejatinya, kita semua saling membutuhkan untuk tumbuh dan sembuh.











