RBN || Palestina
Warga Palestina di Jalur Gaza masih berjuang memulihkan diri pada Selasa (16/12) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari. Curah hujan ekstrem menyebabkan kamp-kamp pengungsi terendam banjir, bangunan yang sudah rusak akibat perang runtuh, dan menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk seorang bayi berusia dua minggu.
Hujan yang dalam sepekan terakhir mencapai lebih dari 150 milimeter di sejumlah wilayah Gaza mengubah jalan-jalan tanah menjadi lumpur dan merendam tenda-tenda pengungsi. Kondisi ini memperparah situasi kemanusiaan di wilayah yang telah dilanda konflik selama dua tahun terakhir.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bayi berusia dua minggu meninggal dunia akibat hipotermia yang dipicu cuaca dingin dan basah. Bayi tersebut sempat dirawat intensif di rumah sakit, namun mengembuskan napas terakhir pada Senin (15/12).
Sementara itu, Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza melaporkan seorang pria meninggal dunia setelah sebuah rumah yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel ambruk karena hujan deras. Lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Keluarga Al-Hosari, pemilik bangunan tersebut, mengatakan sekitar 30 orang tinggal di sana, namun hanya sembilan orang yang berada di rumah saat bangunan runtuh. Korban tewas diketahui merupakan seorang pekerja yang sedang memperbaiki dinding rumah.
Kementerian Kesehatan Gaza menambahkan, 10 korban lainnya meninggal pada pekan lalu akibat runtuhnya bangunan yang tidak mampu menahan hujan dan angin kencang.
Petugas darurat memperingatkan warga agar tidak bertahan di bangunan yang rusak karena berisiko runtuh sewaktu-waktu. Namun, kondisi Gaza yang sebagian besar telah menjadi puing membuat warga hampir tidak memiliki tempat aman untuk berlindung dari hujan.
Pada Juli lalu, Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan hampir 80 persen bangunan di Gaza telah hancur atau rusak.
“Setiap kali mendengar kabar akan ada badai, hidup kami langsung berubah. Kami harus memikirkan di mana berlindung, ke mana membawa kasur dan selimut, serta bagaimana menjaga anak-anak tetap aman dan hangat,” ujar Mohammed Gharableh, warga yang mengungsi dari Rafah.
Ia menambahkan, setiap hujan besar, air selalu merembes ke dalam tenda dan membuat kasur serta selimut basah.
Di Israel, wilayah sekitar Gaza juga diguyur hujan antara 60 hingga 160 milimeter dalam sepekan terakhir, menurut Dinas Meteorologi Israel, bahkan di beberapa daerah jumlah tersebut lebih dari dua kali rata-rata curah hujan tahunan untuk periode ini.
Meski gencatan senjata telah berlangsung selama dua bulan, sejumlah lembaga kemanusiaan menyebut bantuan tempat tinggal musim dingin yang masuk ke Gaza masih jauh dari cukup.
Data militer Israel yang dirilis baru-baru ini menunjukkan target masuknya 600 truk bantuan per hari belum terpenuhi, meski Israel membantah temuan tersebut.
Hampir seluruh dari 2 juta penduduk Gaza kini mengungsi. Sebagian besar tinggal di kamp-kamp tenda di sepanjang pesisir atau di antara bangunan rusak yang tidak memiliki sistem drainase memadai. Banyak warga terpaksa menggunakan lubang pembuangan darurat di dekat tenda sebagai toilet.
Badan militer Israel yang mengoordinasikan bantuan ke Gaza, COGAT, menyatakan sekitar 270.000 tenda dan terpal telah masuk ke Gaza dalam beberapa bulan terakhir, termasuk perlengkapan musim dingin dan sanitasi.
Namun, kelompok bantuan internasional membantah angka tersebut. Shelter Cluster, koalisi lembaga kemanusiaan yang dipimpin Norwegian Refugee Council, mencatat hanya 68.000 tenda yang masuk melalui jalur PBB, LSM, dan negara-negara donor. Banyak tenda tersebut juga dinilai tidak cukup layak untuk menghadapi musim dingin.
Dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Selasa, para pejabat menyatakan PBB telah mendistribusikan tenda, selimut, dan perlengkapan musim dingin lainnya. Namun, mereka memperingatkan bahwa risiko hipotermia meningkat seiring masuknya musim dingin.
Sumber: CNA











