RBN || Ketapang
Insiden keamanan terjadi di kawasan pertambangan emas milik PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (14/12) sore. Sebanyak 15 warga negara asing (WNA) asal China diduga terlibat dalam aksi penyerangan yang menyasar aparat TNI dan menyebabkan kerusakan fasilitas perusahaan.
Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.40 WIB. Akibat kejadian itu, lima anggota TNI dilaporkan menjadi korban serangan, sementara dua unit kendaraan operasional PT SRM mengalami kerusakan cukup parah.
“Peristiwa ini masih kami dalami. Saat ini kami melakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait,” ujar Harris saat dihubungi, Senin (15/12).
Harris menambahkan, pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan Imigrasi untuk menindaklanjuti pendataan terhadap para WNA yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
“Sementara kami masih melakukan proses klarifikasi dan pendalaman. Koordinasi dengan Imigrasi juga dilakukan untuk memastikan data dan status para WNA,” jelasnya.
Personel Polsek Tumbang Titi telah lebih dulu melakukan langkah pengamanan dan penanganan di lokasi kejadian. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa dan situasi di sekitar area tambang dinyatakan aman dan kondusif.
“Sampai saat ini tidak ada korban jiwa dan kondisi sudah terkendali,” tegas Harris.
Sementara itu, Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika petugas keamanan perusahaan mendeteksi adanya aktivitas penerbangan drone di sekitar area tambang sekitar pukul 15.30 WIB.
Lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya (Yonzipur 6/SD) Anjungan, yang saat itu tengah melaksanakan Latihan Dasar Satuan (LDS) di lokasi, turut membantu melakukan pengejaran terhadap operator drone tersebut.
“Total ada enam orang yang melakukan pengejaran, terdiri dari satu petugas pengamanan sipil dan lima anggota TNI,” kata Imran.
Sekitar 300 meter dari pintu masuk PT SRM, petugas menemukan empat WNA yang sedang menerbangkan drone. Namun situasi mendadak berubah ketika sebelas WNA lainnya datang dan diduga langsung melakukan penyerangan.
“Mereka membawa empat bilah senjata tajam, air gun, serta alat setrum, lalu menyerang anggota kami,” ungkap Imran.
Karena kalah jumlah dan untuk menghindari bentrokan yang lebih besar, petugas pengamanan dan anggota TNI akhirnya mundur ke dalam area perusahaan.
Akibat insiden tersebut, satu unit mobil dan satu sepeda motor milik PT SRM mengalami kerusakan parah. Pihak perusahaan juga telah mengamankan satu bilah senjata tajam yang diduga digunakan dalam penyerangan sebagai barang bukti.
Selanjutnya, PT SRM berkoordinasi dengan Polsek Tumbang Titi untuk proses hukum dan penanganan lanjutan.
Sumber: Tribunnews











