“Pandai Silat Tanpa Sakit”, Moto Perisai Diri yang Tekankan Teknik, Etika, dan Keselamatan

  • Share
“Pandai Silat Tanpa Sakit”, Moto Perisai Diri yang Tekankan Teknik, Etika, dan Keselamatan
“Pandai Silat Tanpa Sakit”, Moto Perisai Diri yang Tekankan Teknik, Etika, dan Keselamatan

RBN || Jakarta

Organisasi Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Perisai Diri kembali menegaskan komitmennya dalam membina generasi muda melalui moto yang telah melekat sejak lama: “Pandai Silat Tanpa Sakit.” Moto ini tidak hanya menjadi semboyan, tetapi juga filosofi dasar dalam setiap latihan dan pembinaan atlet di seluruh Indonesia.

Perisai Diri, yang didirikan alm. RM Soebandiman Dirdjoatmodjo pada 1950, dikenal sebagai perguruan silat historis yang menempatkan keselamatan dan teknik bersih sebagai prioritas utama. Filosofi “Pandai Silat Tanpa Sakit” menggambarkan bahwa pencak silat bukan sekadar kemampuan bertarung, tetapi seni bela diri yang mengedepankan kecerdasan gerak, kontrol diri, dan penguasaan teknik sehingga tidak perlu mengandalkan kekerasan berlebihan.

Agung Patera Pelatih senior Perisai Diri, yang ditemui di salah satu tempat latihan di Jakarta, menjelaskan bahwa moto tersebut lahir dari prinsip dasar sang pendiri yang menekankan bahwa silat sejatinya adalah seni perlindungan, bukan agresi. “Intinya, kami melatih bagaimana seseorang mampu menguasai diri, membaca situasi, dan menggunakan teknik efektif tanpa mencederai lawan. Semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin halus gerakannya,” ujar Agung Patera.

Ia menambahkan, melalui pendekatan latihan bertahap, siswa dilatih memahami anatomi tubuh, titik kelemahan, serta kemampuan menghindar dan mengendalikan lawan. Dengan demikian, potensi cedera dapat diminimalkan, baik pada diri sendiri maupun mitra latihan. Filosofi ini membuat Perisai Diri diterima luas sebagai perguruan yang aman bagi anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Selain fokus pada teknik, moto tersebut juga memperkuat nilai etika dan moral dalam bela diri. Para pesilat didorong menjunjung tinggi sportivitas, menghormati lawan, dan menghindari konflik fisik yang tidak perlu. “Pandai silat itu bukan gagah-gagahan. Tidak ada kebanggaan melukai orang lain. Yang ada adalah kebanggaan ketika kita bisa menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan,” kata salah satu pengurus daerah.

Moto ini juga relevan dengan kondisi saat ini, ketika generasi muda memerlukan ruang pembinaan karakter yang menekankan disiplin dan rasa aman. Perisai Diri melihat semboyan ini sebagai upaya membentuk pesilat berkompetensi tinggi namun tetap rendah hati, berakal sehat, dan bertanggung jawab.

Dengan filosofi yang kuat dan pendekatan latihan yang terukur, “Pandai Silat Tanpa Sakit” kini tidak sekadar slogan, melainkan identitas Perisai Diri dalam mencetak pesilat-pesilat tangguh yang mampu menjaga diri tanpa melukai.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *