Berhenti Menjelaskan: Kenapa Ini Pilihan yang Sehat?

  • Share
ilustrasi

RBN || Jakarta

Berhenti menjelaskan diri kepada orang yang tak mau mengerti kini menjadi cara banyak orang menjaga kesehatan mental mereka. Pilihan ini muncul setelah seseorang berkali-kali menjelaskan perasaannya, namun orang lain terus mematahkan atau mempersoalkan penjelasan itu. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena sadar bahwa tidak setiap penjelasan berujung pada pengertian.

Pada titik tertentu, diam menjadi pilihan yang masuk akal. Meski begitu, diam semacam ini tidak sama dengan kalah. Seseorang bisa memilih berhenti bicara justru karena menyadari bahwa mempertahankan diri dalam percakapan yang tidak sehat hanya menghabiskan energi emosional. Tidak setiap tuduhan butuh pembelaan panjang, dan kita tidak perlu meyakinkan semua orang bahwa perasaan kita nyata.

Anak muda juga ramai membahas topik ini di media sosial sebagai pengingat menjaga batas diri. Banyak yang merasa lelah terus-menerus membuktikan bahwa lukanya nyata kepada orang yang memang tidak berniat mendengar.

Kenapa berhenti menjelaskan bukan berarti kalah

James J. Gross, profesor psikologi di Stanford University, meneliti bagaimana manusia mengatur ekspresi emosinya. Salah satu strategi yang ia sebut expressive suppression adalah menahan ekspresi emosi setelah emosi itu muncul. Penelitian Gross dan koleganya menunjukkan strategi ini punya sisi negatif.

Jika seseorang terus memakai strategi ini sebagai pola tetap, kesejahteraannya bisa menurun. Relasi sosialnya juga berisiko ikut memburuk.

Karena itu, menjadi dewasa bukan berarti berhenti marah, sedih, atau kecewa. Sedih saat orang lain tidak menghargai kita tetap manusiawi. Marah bahkan bisa menjadi sinyal bahwa seseorang telah melanggar sesuatu yang penting bagi kita. Kedewasaan justru terlihat dari cara seseorang mengenali emosi tersebut, lalu memilih respons yang tidak semakin merusak dirinya sendiri.

Sebagian orang memilih diam setelah mengenali pola percakapan yang berulang. Orang lain membalas satu kalimat dengan sepuluh tuduhan, dan satu penjelasan hanya melahirkan persoalan baru. Ketika tujuan percakapan bergeser dari memahami menjadi sekadar memenangkan ego, menjaga ketenangan bisa lebih berharga daripada mendapat kata terakhir.

Batas antara diam yang sehat dan self-silencing

Psikologi humanistik Carl Rogers turut menjelaskan mengapa penerimaan menjadi penting di sini. Pendekatan person-centered miliknya menempatkan empati dan penerimaan tanpa penghakiman sebagai unsur utama pertumbuhan psikologis. Prinsip ini relevan sehari-hari: manusia mengendalikan caranya bersikap, tetapi tidak mengendalikan cara orang lain menilai dirinya.

Meski demikian, kita tetap perlu menjaga satu batas penting. Psikologi mengenal istilah self-silencing, yaitu kecenderungan menahan kebutuhan atau perasaan demi menghindari konflik. Sejumlah penelitian menemukan bahwa self-silencing berkaitan dengan kesehatan psikologis yang lebih buruk, bahkan tekanan psikologis yang meningkat. Artinya, menjaga kedamaian tidak seharusnya berarti kehilangan suara sendiri.

Kapan sebaiknya tetap bicara

Berhenti menjelaskan kepada orang yang tak mau mengerti bukan alasan untuk memendam semua emosi seorang diri. Sebagian orang tetap layak mendengar cerita kita, misalnya keluarga, sahabat, atau tenaga profesional yang menyediakan ruang aman tanpa menghakimi. Oleh sebab itu, kedewasaan emosional justru terlihat dari kemampuan menentukan kapan berbicara, kapan menetapkan batas, dan kapan memilih diam.

Ke depan, tantangannya bukan lagi meyakinkan semua orang agar mengerti. Sebaliknya, tantangan itu adalah mengenali kapan sebuah percakapan masih layak kita perjuangkan. Selain itu, kita juga perlu tahu kapan sebaiknya menyimpan energi untuk hal lain. Dengan begitu, diam tidak lagi terasa seperti kekalahan, melainkan bentuk lain dari menjaga diri sendiri.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *