RBN || Jakarta
Sebelum seseorang bisa benar-benar mengenal dirinya, ada satu langkah sederhana yang sering terlewat yaitu mengakui apa yang sedang dirasakan, tanpa buru-buru menjelaskannya, membenarkannya, atau menyembunyikannya. Banyak orang justru melompat langsung ke tahap mencari solusi atau mengalihkan perhatian, padahal perasaan yang belum diakui akan terus menuntut perhatian dengan caranya sendiri.
Mengakui perasaan terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya sering kali sulit dilakukan. Ada kebiasaan untuk segera menilai perasaan yang muncul seperti apakah pantas merasa seperti ini, apakah berlebihan, apakah seharusnya sudah bisa mengatasinya. Penilaian-penilaian semacam ini membuat seseorang lebih sibuk menghakimi perasaannya sendiri daripada benar-benar memahaminya.
Kesadaran diri tidak lahir dari kemampuan menjelaskan diri secara sempurna kepada orang lain. Kesadaran diri lahir dari kejujuran mengenali apa yang sesungguhnya bergejolak di dalam, meski belum bisa dijelaskan dengan rapi. Terkadang seseorang hanya perlu mengakui, “aku merasa kesal, tapi aku belum tahu persis kenapa,” tanpa harus terburu-buru mencari alasan logis yang bisa diterima semua orang.
Ada perbedaan mendasar antara mengakui perasaan dan tenggelam di dalamnya. Mengakui berarti memberi ruang bagi perasaan itu untuk diakui keberadaannya, sementara tenggelam berarti membiarkan perasaan itu mengambil alih seluruh cara berpikir dan bertindak. Kesadaran diri yang sehat berada di titik tengah seperti mengenali perasaan tanpa harus dikuasai olehnya.
Banyak pola perilaku yang berulang sebenarnya berakar dari perasaan yang tidak pernah benar-benar diakui. Kemarahan yang muncul tiba-tiba pada hal kecil, misalnya, sering kali bukan tentang kejadian itu sendiri, melainkan tumpukan perasaan yang selama ini dipendam tanpa pernah diberi ruang untuk diproses. Ketika seseorang mulai mengakui perasaannya satu per satu, pola-pola semacam itu perlahan menjadi lebih mudah dipahami.
Mengakui perasaan juga membutuhkan kesediaan untuk tidak selalu mencari kambing hitam, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Bukan soal mencari siapa yang salah atas apa yang dirasakan, melainkan sekadar mengenali, ini yang sedang aku rasakan saat ini. Dari titik itulah proses memahami diri sendiri sebenarnya baru bisa dimulai.
Sayangnya, banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan untuk segera mengalihkan perasaan yang tidak nyaman, yaitu sibuk bekerja, mengalihkan diri dengan hiburan, atau menyibukkan pikiran dengan urusan orang lain. Cara-cara ini mungkin memberi jeda sesaat, tapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa yang sesungguhnya perlu diakui dan dipahami.
Kesadaran diri yang tumbuh dari kebiasaan mengakui perasaan biasanya membuat seseorang lebih tenang menghadapi gejolak emosinya sendiri. Ia tidak lagi kaget atau panik setiap kali muncul perasaan yang tidak nyaman, karena ia sudah terbiasa mengenali dan memberi nama pada apa yang dirasakannya, alih-alih membiarkannya menjadi sesuatu yang asing dan menakutkan.
Pada akhirnya, kesadaran diri bukan hasil dari analisis yang rumit atau pencarian jawaban yang sempurna tentang siapa diri seseorang. Kesadaran diri tumbuh dari kebiasaan sederhana namun konsisten, berhenti sejenak, mengakui apa yang dirasakan, dan memberi ruang bagi perasaan itu untuk ada, sebelum akhirnya memilih bagaimana meresponsnya.











