RBN || Jakarta
Ketika kata healing kini muncul di mana-mana, dari status media sosial hingga rekomendasi tempat wisata yang diberi label healing spot. Namun semakin sering kata ini digunakan secara luas, semakin ia kehilangan makna aslinya. Healing berubah menjadi aktivitas yang bisa dibeli, dijadwalkan, dan dipamerkan, sementara esensi yang seharusnya menyertainya, yaitu kelembutan pada diri sendiri, justru sering terlewat begitu saja.
Fenomena ini terlihat jelas dalam cara banyak orang mengejar healing seperti mengejar target lain dalam hidup. Ada tekanan tersembunyi untuk terlihat produktif bahkan dalam beristirahat, harus healing ke tempat yang instagramable, harus menunjukkan bukti telah merawat diri, harus memastikan waktu istirahat itu terlihat berharga di mata orang lain. Padahal, kelembutan pada diri sendiri seharusnya tidak memerlukan validasi eksternal semacam itu.
Ironinya, semakin healing dijadikan tren yang harus dikejar, semakin jauh pula seseorang dari kelembutan yang sesungguhnya dibutuhkan. Alih-alih memberi ruang untuk merasa lelah tanpa harus segera memperbaikinya, banyak orang justru menambah tekanan baru, tekanan untuk healing dengan benar, healing secepat mungkin, healing yang terlihat meyakinkan bagi orang lain yang menyaksikan. Istirahat yang seharusnya membebaskan justru berubah menjadi kewajiban baru yang harus dipenuhi.
Kelembutan pada diri sendiri sebenarnya jauh lebih sunyi dari yang dibayangkan. Ia tidak selalu memerlukan perjalanan ke tempat baru atau pengeluaran khusus. Kadang kelembutan itu sesederhana mengizinkan diri untuk menangis tanpa buru-buru menghapus air mata karena malu terlihat rapuh, atau membiarkan diri berhenti sejenak dari rutinitas tanpa merasa bersalah karena dianggap tidak produktif. Bentuk-bentuk sederhana ini jarang terlihat menarik untuk dibagikan, sehingga sering luput dari perhatian di tengah tren healing yang serba tampak.
Ada juga kecenderungan menjadikan healing sebagai pengalih perhatian dari persoalan yang sesungguhnya perlu dihadapi. Berlibur sejenak memang bisa memberi jeda yang menyegarkan, tapi jika terus dijadikan cara utama menghindari konflik batin yang belum selesai, jeda itu hanya menunda, bukan menyelesaikan. Begitu perjalanan usai dan rutinitas kembali berjalan, persoalan yang sama biasanya kembali muncul, karena akar masalahnya belum pernah benar-benar disentuh dengan kelembutan yang sesungguhnya dibutuhkan.
Kelembutan yang sejati menuntut kehadiran, bukan sekadar pelarian. Ia meminta seseorang untuk tetap berada di dekat perasaannya sendiri, meski perasaan itu tidak nyaman, alih-alih segera mengalihkannya dengan aktivitas yang menyenangkan. Duduk sejenak dengan rasa sedih, mengakui rasa takut tanpa buru-buru menutupinya, atau mengizinkan diri merasa marah tanpa harus segera dijelaskan secara logis, semuanya adalah bentuk kelembutan yang jarang terlihat menarik, tapi jauh lebih menyembuhkan dibanding sekadar mencari pengalih perhatian sementara.
Tren healing yang berkembang pesat juga sering mengabaikan bahwa proses pemulihan setiap orang berbeda-beda, baik dari segi waktu maupun caranya. Ketika healing dijadikan formula seragam, seolah semua orang bisa pulih dengan cara dan kecepatan yang sama, banyak orang justru merasa gagal ketika cara populer itu tidak memberikan hasil yang sama seperti yang terlihat pada orang lain. Padahal kelembutan pada diri sendiri seharusnya dimulai dari penerimaan bahwa proses masing-masing orang memang tidak bisa disamaratakan.
Kembali pada kelembutan yang sesungguhnya berarti berani melepaskan standar healing yang dibentuk oleh tren, dan mulai bertanya secara jujur pada diri sendiri, apa yang benar-benar dibutuhkan saat ini, bukan apa yang terlihat baik untuk ditampilkan pada orang lain. Terkadang jawabannya sederhana, seperti tidur lebih awal tanpa rasa bersalah, atau sekadar duduk diam tanpa perlu melakukan apa pun yang terlihat produktif.
Kelembutan pada diri sendiri tidak membutuhkan panggung maupun validasi dari luar untuk dianggap sah. Ia cukup hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari, memilih untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri saat gagal, memberi waktu istirahat tanpa merasa harus mempertanggungjawabkannya pada siapa pun, dan mengizinkan proses pemulihan berjalan sesuai kecepatannya sendiri, jauh dari hiruk pikuk tren yang terus berganti arah.











