RBN || Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan awal pekan dengan penguatan tipis. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Garuda sepanjang hari.
Berdasarkan data Bloomberg, pada Senin (22/6/2026) pukul 09.25 WIB, rupiah di pasar spot tercatat menguat 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp17.799 per dolar AS.
Di tengah penguatan terbatas rupiah, mayoritas mata uang Asia justru bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang terkoreksi 0,18 persen, dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dan dolar Singapura melemah 0,09 persen.
Tekanan juga dialami won Korea Selatan yang turun 0,51 persen, peso Filipina melemah 0,26 persen, serta yuan China yang terkoreksi 0,06 persen. Ringgit Malaysia ikut turun 0,25 persen. Sementara itu, rupe India naik tipis 0,01 persen dan baht Thailand menguat 0,02 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini.
Menurutnya, meski sempat menguat pada pembukaan, rupiah berpotensi kembali tertekan dan ditutup melemah.
“Rupiah pada hari ini akan berfluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.800-Rp17.850,” ujar Ibrahim.
Untuk perdagangan dalam sepekan ke depan, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran yang cukup lebar, yakni antara Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk dinamika ekonomi global, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta sentimen pasar keuangan internasional yang terus berkembang.
Sumber: Berita Satu











