RBN || Jakarta
Perkembangan teknologi dan masifnya penggunaan media sosial membawa dampak besar terhadap kehidupan siswa. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, muncul tantangan baru berupa meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, stres akademik, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Kepala SMAN 1 Sukatani, Munah Widiawati, S.Pd., M.Pd, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 311, Sabtu (20/6/2026), menilai kondisi kesehatan mental siswa saat ini cukup rentan. Menurutnya, media sosial menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya tekanan psikologis pada anak dan remaja.
Ia menjelaskan, kebiasaan menghabiskan banyak waktu untuk menggulir media sosial membuat siswa sering terpapar konten yang menampilkan gambaran kehidupan yang terlihat sempurna. Kondisi tersebut memicu perbandingan sosial dan keinginan untuk meraih sesuatu secara instan.
“Peran guru-guru sebagai garda terdepan yang membantu siswa bangkit dari rasa rendah diri dan menjadi pribadi yang utuh sesuai kapasitas masing-masing,” ujar Munah.
Selain pengaruh media sosial, siswa juga menghadapi berbagai tekanan akademik yang dapat berdampak pada kesehatan mental mereka. Tekanan tersebut berasal dari tuntutan orang tua, persaingan antarsiswa, beban tugas sekolah, kelelahan digital, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Menurut Munah, sekolah perlu mencari strategi yang lebih efektif agar proses pembelajaran tidak justru menjadi beban bagi peserta didik.
“Guru bisa memberikan tugas kolaboratif beberapa mata pelajaran agar tidak terlalu membebani siswa,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai media sosial memiliki dampak yang bersifat ganda. Di satu sisi, platform digital dapat menjadi sarana komunikasi dan akses informasi yang bermanfaat. Namun di sisi lain, penggunaan yang berlebihan berpotensi memunculkan rasa rendah diri, kecemasan, hingga menurunkan konsentrasi belajar.
Tidak hanya itu, media sosial juga dinilai turut memengaruhi pola komunikasi siswa. Penggunaan bahasa yang kurang santun dan kecenderungan berinteraksi lebih banyak di dunia maya menjadi fenomena yang semakin sering ditemui.
“Dari sisi relasi, media sosial bisa mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat,” ungkapnya.
Meski demikian, Munah menegaskan bahwa perkembangan teknologi merupakan bagian dari kemajuan zaman yang tidak bisa dihindari. Karena itu, para pendidik dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi agar mampu memahami karakter serta kebutuhan siswa di era digital.
Menurutnya, guru perlu mengikuti perkembangan teknologi agar proses pendidikan tetap relevan dan mampu menjawab tantangan generasi saat ini.
Di sisi lain, ia juga berpesan kepada para siswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Tantangan dan kegagalan merupakan bagian dari proses menuju kesuksesan yang dapat membentuk ketahanan mental seseorang.
“Orang sukses adalah orang yang terbiasa jatuh bangun, hal ini justru bisa memperkuat ketahanan mental, sukses perlu disiplin, jujur, kerja keras, dan pantang menyerah,” pungkasnya.
Meningkatnya tantangan kesehatan mental di kalangan siswa menjadi pengingat pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam menciptakan ruang yang aman dan suportif. Dengan pendampingan yang tepat, siswa diharapkan mampu menghadapi tekanan zaman sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri.











