Akhir Damai Kasus Siswa SMK Bogor Diinjak-injak demi Gabung Geng

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Detik News)

RBN || Bogor

Kasus pengeroyokan terhadap seorang siswa SMK di Kota Bogor yang sempat viral di media sosial akhirnya diselesaikan melalui jalur damai. Dirangkum detikcom, Sabtu (6/6/2026), video pengeroyokan yang menimpa korban juga beredar di media sosial. Dalam video viral terlihat seorang remaja bertelanjang dada tertelungkup di gang sempit di antara bangunan.

Korban sebelumnya menjadi sasaran kekerasan berupa pemukulan hingga diinjak-injak oleh sejumlah pelajar lain yang diduga menjadikan tindakan tersebut sebagai syarat untuk bergabung ke dalam sebuah kelompok atau geng. Setelah dilakukan penyelidikan oleh kepolisian dan serangkaian pertemuan antara kedua belah pihak, keluarga korban dan pelaku sepakat menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan.

Peristiwa itu terjadi di kawasan Baranangsiang, Kota Bogor, dan sempat menghebohkan masyarakat setelah rekaman video pengeroyokan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, korban terlihat dikeroyok dan diinjak-injak oleh beberapa pelajar lainnya.

Polisi kemudian bergerak cepat melakukan penyelidikan dan mengamankan sejumlah pelajar yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa tindakan itu diduga berkaitan dengan proses penerimaan anggota baru dalam sebuah kelompok pelajar.

Setelah kasus mencuat, pihak keluarga korban dan pelaku melakukan komunikasi serta diskusi untuk mencari penyelesaian terbaik. Dalam proses mediasi tersebut, kedua belah pihak sepakat mengedepankan pendekatan kekeluargaan. Kesepakatan damai dicapai dengan adanya tanggung jawab dari pihak pelaku terhadap korban, termasuk bentuk kompensasi dan komitmen agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Kami memutuskan untuk damai dari kedua belah pihak, dengan tanggung jawab tentunya, kompensasi terhadap korban,” kata perwakilan keluarga pelaku, Devi.

Meski kasus telah berakhir damai, peristiwa ini menjadi perhatian serius karena melibatkan kekerasan di kalangan pelajar. Berbagai pihak berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi siswa, orang tua, maupun sekolah untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan karakter.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa praktik kekerasan yang dibungkus dengan alasan solidaritas kelompok atau perekrutan anggota baru tidak dapat dibenarkan dan berpotensi menimbulkan dampak fisik maupun psikologis bagi korban.

Sumber: Detik News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *