Israel Cegat Armada Bantuan Gaza, Ratusan Aktivis dan Jurnalis Ditahan

  • Share
Foto: Jack Guez/AFP via Getty Images

RBN || Yerusalem

Pasukan Israel mencegat seluruh kapal yang tersisa dari armada aktivis kemanusiaan yang berupaya menembus blokade laut Gaza pada Selasa waktu setempat. Aksi tersebut menjadi sorotan internasional karena armada itu membawa bantuan makanan dan obat-obatan bagi hampir dua juta warga Palestina yang saat ini menghadapi krisis kemanusiaan.

Siaran langsung di situs Global Sumud Flotilla memperlihatkan tentara Israel bersenjata menaiki kapal-kapal aktivis. Dalam tayangan itu, para aktivis yang mengenakan pelampung tampak mengangkat tangan saat pasukan Israel mengambil alih kapal. Kamera yang terpasang di kapal juga disebut dirusak oleh tentara.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mendesak dilakukan peninjauan mendesak terkait penggunaan kekuatan oleh Israel. Permintaan itu muncul setelah sejumlah aktivis Italia mengaku pasukan Israel menembakkan peluru karet ke arah kapal.

Penyelenggara armada menyebut lima kapal terkena tembakan saat proses pencegatan berlangsung dan beberapa di antaranya mengalami kerusakan.

Armada tersebut diketahui berangkat dari Turki pekan lalu dan dihentikan Israel sekitar 167 mil dari pesisir Gaza.

Pemerintah Israel menilai aksi armada itu hanya sebagai provokasi dan tidak benar-benar bertujuan mengirim bantuan kemanusiaan. Israel juga menyebut jumlah bantuan yang dibawa kapal hanya bersifat simbolis.

Sehari sebelumnya, Angkatan Laut Israel telah menghentikan sekitar 41 kapal armada di perairan internasional dekat Siprus dan menahan seluruh penumpangnya.

Hingga Selasa malam, pihak Global Sumud Flotilla mengaku belum mengetahui keberadaan 428 aktivis dari lebih 40 negara yang ditahan Israel.

“Mereka belum mendapatkan akses pengacara maupun bantuan konsuler, dan keluarga mereka juga belum diberi tahu lokasi penahanan,” demikian pernyataan flotilla.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan seluruh 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan sedang dibawa menuju wilayah Israel.

Dalam unggahan di platform X, pemerintah Israel menyebut armada tersebut sebagai aksi pencitraan untuk kepentingan Hamas.

“Mereka sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler masing-masing,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel.

Sejumlah negara turut bereaksi atas insiden tersebut. Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menyebut pencegatan kapal di perairan internasional sebagai tindakan yang benar-benar tidak dapat diterima.

Armada kemanusiaan itu juga meminta para pemimpin dunia mendesak pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap seluruh aktivis yang ditahan.

Sebelumnya, kelompok aktivis tersebut menyatakan para relawan dipindahkan secara paksa menuju pelabuhan yang tidak disebutkan namanya menggunakan kapal Israel.

Mereka juga mengaku khawatir terhadap keselamatan fisik para aktivis setelah sejumlah relawan yang ditahan dalam insiden serupa pada 30 April lalu melaporkan adanya dugaan penyiksaan, kekerasan fisik berat, hingga kekerasan seksual selama penahanan. Tuduhan itu dibantah Israel.

Pemerintah Turki dan kelompok Hamas menyebut aksi pencegatan itu sebagai tindakan pembajakan. Sementara Italia, Spanyol, dan Indonesia meminta Israel segera membebaskan para aktivis serta menjamin keselamatan mereka.

Di sisi lain, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap empat aktivis Eropa yang berada di armada tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut armada itu sebagai gerakan pro-teror.

Israel sendiri menegaskan bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap berjalan. Otoritas pertahanan Israel menyebut sekitar 600 truk bantuan masuk setiap hari, jumlah yang diklaim setara dengan kondisi sebelum perang.

Namun, laporan Program Pangan Dunia PBB menunjukkan jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza justru turun tajam pada Maret lalu, dengan rata-rata hanya 112 truk per hari.

Salah seorang aktivis Italia, Daniele Gallina, mengatakan misi mereka bukan sekadar mengirim bantuan, tetapi juga membuka akses Gaza ke dunia internasional.

“Yang penting bukan hanya bantuannya, meski itu penting, tetapi perubahan besar yang diwakilinya. Ini juga tentang menentang kolaborasi pemerintah kami terhadap kebijakan tersebut,” kata Gallina kepada Associated Press.

Gallina menegaskan armada tersebut menjalankan misi damai tanpa senjata. Menurutnya, tindakan militer Israel menunjukkan hukum internasional kini diabaikan secara terang-terangan, terutama terhadap misi sipil damai yang tidak membawa senjata.

Ia memastikan para aktivis tetap akan melanjutkan aksi mereka hingga berhasil mencapai Gaza.

Israel telah memberlakukan blokade laut terhadap Gaza sejak Hamas menguasai wilayah itu pada 2007. Blokade diperketat setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan lebih dari 250 orang disandera.

Para pengkritik menilai blokade tersebut merupakan bentuk hukuman kolektif terhadap warga sipil Palestina. Namun Israel berdalih kebijakan itu diperlukan untuk mencegah Hamas memperoleh senjata.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 72.700 orang tewas akibat serangan balasan Israel sejak konflik pecah pasca-serangan 7 Oktober 2023.

Sumber: NBC News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *